بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Oleh: Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom ( Wakil Dekan III FIS UIN SUMUT )
Pemulihan wilayah Sumatera pascabencana banjir dan longsor merupakan sebuah ikhtiar mulia serta tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan negara secara utuh. Di tengah suasana duka yang menyelimuti, proses pemulihan ini tumbuh dari kesadaran birri wa taqwa serta pendekatan yang menyentuh relung moral, sosial, dan budaya secara berkelanjutan. Terasa nyata dalam setiap langkah penanganan, ketulusan untuk hadir dan membersamai rakyat menjadi napas utama bagi kebangkitan kembali saudara-saudara kita.
Pemerintah Republik Indonesia membuktikan tanggung jawab melalui kehadiran nyata bagi masyarakat terdampak di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kesigapan ini tercermin dari perhatian besar yang diberikan secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia beserta jajaran pemerintah pusat melalui pemantauan terhadap perkembangan situasi di lapangan. Kehadiran negara di tengah masa sulit ini menjadi kekuatan moral yang sangat berarti, sebuah penegasan bahwa rakyat tidak melangkah sendirian dalam menghadapi ujian ini.
Dalam peristiwa bencana yang demikian luas, keterbatasan hambatan akibat banyaknya jembatan dan struktur jalan yg tiada terlihat merupakan hal yang manusiawi adanya sedikit hambatan. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah pemerintah dan seluruh elemen bangsa untuk bergerak maksimal. Dengan untaian doa dan keyakinan kepada Allah SWT, ikhtiar ini berjalan dalam keridhoan-Nya. Sinergi lintas sektor membentangkan jalan bagi penanganan darurat yang terpadu dan manusiawi dengan senantiasa menempatkan keselamatan warga di ruang yang paling utama.
Gerakan kemanusiaan mahasiswa Gen Z tumbuh semakin kokoh melalui kehadiran nyata di titik bencana untuk ikut berduka dan menyaksikan langsung kondisi masyarakat. Pada Jumat malam, 05 Desember 2025, pimpinan mahasiswa dari berbagai elemen seperti DEMA U, HMI FIS, HMI FDK UIN Sumatera Utara, dan ATOM Sumatera Utara melangkah langsung ke lokasi dampak bencana banjir besar di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Kehadiran para mahasiswa ini dibersamai oleh Tuan M. Yoserizal Saragih sebagai pendamping edukasi, berbagi kasih serta bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang sedang dalam kondisi membutuhkan.
Di lokasi tersebut, terlihat pemandangan yang menyentuh nurani di mana masyarakat dari berbagai luar provinsi Aceh berdatangan silih berganti memberikan tali asih kepada mereka yang terdampak. Fenomena ini merupakan sebuah Rahmat tolong-menolong kemanusiaan yang sangat nyata, sebuah manifestasi dari solidaritas kebangsaan yang tumbuh dari etos Pancasila. Sinergi antara masyarakat peduli, relawan lintas daerah, dan kaum intelektual muda menjadi pilar penting dalam menjaga ketahanan sosial serta keberlanjutan lingkungan di Pulau Sumatera.
Secara filosofis, konsep Qum Faanzir menjadi seruan moral dalam membangun kesadaran bersama. Makna Bangkit merepresentasikan pemulihan martabat manusia pascabencana, sementara Memberi Peringatan tumbuh menjadi panggilan nurani dalam membangun sistem pelindungan yang selaras dengan kearifan lokal. Kepercayaan rakyat menjadi fondasi bagi seluruh pihak dalam menjalankan pemulihan yang memperhatikan aspek sosial, alam, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat secara mandiri serta bermartabat.
Dukungan yang menyatu dengan keadaan warga lahir dari kedekatan hati dan pertemuan langsung di tengah masyarakat. Saat menyapa warga di Kabupaten Aceh Tamiang, terlihat betapa berartinya dukungan logistik harian seperti beras dan bahan pangan, kebutuhan energi berupa gas elpiji dan perangkat penerangan, hingga perlengkapan kesehatan. Penyaluran bantuan yang dikelola dengan ketulusan ini membawa ketenangan hidup bagi saudara-saudara kita yang terdampak.
Langkah ke depan berfokus pada pemulihan ekosistem Pegunungan Bukit Barisan sebagai benteng ketahanan bersama. Penanaman kembali lahan-lahan yang gundul serta pemulihan tanaman asli menjadi cara dalam menjaga alam agar musibah serupa tidak terus berulang, didukung dengan pengelolaan aliran air yang lebih baik di sepanjang sungai. Pemulihan ini juga mengarah pada pembangunan hunian yang aman dan selaras dengan alam, sembari menghidupkan kembali budaya gotong royong serta kepedulian lingkungan dalam setiap keluarga.
Upaya rekonstruksi kini diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar yang mendesak, mulai dari penyediaan Hunian Sementara (Huntara) hingga transisi menuju Hunian Tetap (Huntap) yang lebih layak bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Selain dukungan kebutuhan hidup, perhatian khusus diberikan pada pemulihan peralatan rumah tangga dasar, termasuk penyediaan peralatan dapur dan alat memasak darurat agar setiap keluarga dapat kembali mengolah pangan secara mandiri dan bermartabat.
Pemerintah juga merespons kebutuhan masyarakat melalui regulasi pemanfaatan kayu gelondongan pascabencana agar dapat digunakan secara bijaksana dalam memulihkan bangunan mereka. Di sisi lain, penyediaan instalasi pengolahan air bersih portabel menjadi prioritas utama guna menjamin ketersediaan konsumsi yang sehat di masa transisi.
Seiring dengan pemulihan infrastruktur fisik, penguatan fasilitas spiritual menjadi bagian tak terpisahkan dari misi kemanusiaan ini. Persiapan dan renovasi rumah ibadah, khususnya masjid-masjid yang terdampak, dilakukan agar masyarakat dapat kembali bersujud dan menemukan ketenangan batin di tengah proses bangkit dari musibah.
Dalam seluruh ikhtiar ini, kita diingatkan untuk senantiasa menjaga kejernihan niat: jangan memperkeruh keadaan dengan polemik yang tidak perlu, dan jangan pula mengeruk keuntungan dari suasana duka yang tengah melanda. Kepekaan nurani harus dikedepankan, karena setiap kebijakan, tindakan, dan tutur kata kita di tengah musibah ini sesungguhnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Maha Kuasa yang meliputi segala sesuatu.
Semangat Qum Faanzir adalah janji luhur untuk masa depan Sumatera yang tangguh. Pemulihan fisik yang berjalan selaras dengan kekuatan spiritual dan moral melahirkan kehidupan yang lebih baik. Dalam setiap ujian, kesabaran dan tawakal menjadi kompas yang menjernihkan akal budi. Kesadaran ini membawa pada keyakinan bahwa bencana adalah ujian keimanan dan solidaritas. Kekurangan yang ada tidak menyurutkan langkah untuk terus berikhtiar maksimal di bawah keridhoan-Nya. Merupakan sebuah harapan bagi seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan Sumatera yang berdaya untuk Indonesia, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya : Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِ ۖ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya : Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka... Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم






0 Komentar