Header Ads Widget


 

“Tattaqūn” Perisai Komunikasi Kebersamaan dalam Kebajikan sebagai Sendi Peradaban Bangsa dan Dunia



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Oleh: Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom – Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara

Peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan material, melainkan oleh kualitas etika yang membimbing arah kehidupan kolektif. Dalam khazanah Qur’ani, terdapat satu lafaz kunci yang bersifat protektif sekaligus normatif, yaitu تَتَّقُونَ (tattaqūn), yang secara kebahasaan berarti “agar kalian bertakwa” atau “agar kalian menjaga diri”. Lafaz ini menunjukkan orientasi etis yang bersifat preventif, yakni membangun kesadaran kolektif untuk menjaga diri dari kerusakan moral, ketidakadilan sosial, dan penyimpangan nilai dalam kehidupan bersama.

Secara filologis, tattaqūn berasal dari akar kata وَقَى (waqā) yang bermakna menjaga, melindungi, dan membuat perisai. Dengan demikian, ketakwaan dalam perspektif Qur’ani tidak semata dimaknai sebagai kesalehan individual, tetapi juga sebagai mekanisme perlindungan etis yang berdampak pada tatanan sosial. Dalam konteks ini, tattaqūn dapat dipahami sebagai perisai batin kolektif yang menjaga keberlangsungan kebersamaan dalam kebajikan.

Kebersamaan dalam kebajikan merupakan manifestasi sosial dari ketakwaan. Ketika individu dan kelompok memilih untuk saling menolong, berbagi tanggung jawab, menjaga keadilan, serta merawat kemaslahatan bersama, maka nilai tattaqūn beroperasi secara substantif dalam ruang sosial. Ia tidak hadir sebagai simbol retoris, melainkan sebagai kesadaran etis yang membentuk pola komunikasi, kepemimpinan, dan interaksi publik yang berlandaskan nilai moral.
Dalam kerangka komunikasi sosial, tattaqūn berfungsi sebagai perisai normatif yang menuntun etika komunikasi kolektif. Komunikasi yang berlandaskan ketakwaan ditandai oleh kejujuran, kehati-hatian, tanggung jawab moral, dan orientasi kemaslahatan. Dengan demikian, kebersamaan tidak dibangun atas dasar kepentingan sesaat, melainkan atas dasar kesadaran spiritual dan tanggung jawab etis yang berkelanjutan.

Al-Qur’an menempatkan tattaqūn sebagai tujuan normatif dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk ibadah dan relasi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa ketakwaan memiliki dimensi vertikal (hubungan dengan Allah SWT) dan dimensi horizontal (hubungan antarmanusia). Integrasi kedua dimensi tersebut melahirkan kebersamaan yang tidak sekadar bersifat sosial, tetapi juga bernilai spiritual dan berorientasi pada kemaslahatan kolektif.

Peradaban yang berlandaskan kebersamaan dalam kebajikan akan memiliki ketahanan moral yang lebih kokoh. Ketahanan ini lahir dari kesadaran bahwa setiap tindakan sosial mengandung pertanggungjawaban etis, baik secara horizontal di hadapan masyarakat maupun secara vertikal di hadapan Allah SWT. Dalam perspektif ini, tattaqūn berfungsi sebagai kompas etis yang menjaga agar dinamika sosial tidak terjerumus dalam egoisme kolektif, konflik destruktif, dan degradasi nilai.

Dalam konteks kebangsaan, kebersamaan yang dilandasi tattaqūn menegaskan prinsip tanggung jawab kolektif dalam pembangunan peradaban. Pemimpin, akademisi, ulama, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga arah pembangunan yang beretika, adil, dan berkelanjutan. Ketakwaan kolektif mendorong lahirnya kepemimpinan yang amanah, kebijakan yang berkeadilan, serta partisipasi sosial yang konstruktif.

Lebih lanjut, kebersamaan dalam kebajikan memiliki dimensi edukatif yang strategis. Pendidikan nilai yang berlandaskan ketakwaan kolektif membentuk karakter yang berintegritas, empatik, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kebajikan tidak berhenti pada tataran wacana normatif, tetapi terinternalisasi dalam praktik sosial yang nyata dan berkelanjutan.

Dalam lanskap global yang ditandai oleh disrupsi nilai, krisis kemanusiaan, dan fragmentasi sosial, tattaqūn relevan sebagai fondasi etika peradaban dunia. Prinsip menjaga diri dari kerusakan moral dan sosial menjadi landasan bagi kolaborasi global yang berkeadilan, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Kebersamaan global yang dilandasi ketakwaan akan memperkuat solidaritas lintas bangsa dan mencegah dominasi kepentingan yang merusak keseimbangan peradaban.

Dengan demikian, tattaqūn bukan sekadar istilah teologis, melainkan arsitektur etika kolektif yang menjaga keberlangsungan peradaban. Ia berfungsi sebagai perisai komunikasi kebersamaan dalam kebajikan, yang menuntun manusia untuk memadukan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan berbangsa dan berperadaban.

Akhirnya, kebersamaan dalam kebajikan yang dilandasi tattaqūn menempatkan peradaban pada fondasi nilai yang kokoh: etika, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab moral. Selama ketakwaan kolektif dijaga sebagai perisai batin sosial, peradaban bangsa dan dunia akan tetap tegak secara nilai, stabil secara moral, dan berkelanjutan dalam orientasi kemaslahatan.

Dalam suasana Ramadhan 1447 H, semoga para pemimpin bangsa, pemimpin agama, akademisi, dan seluruh masyarakat senantiasa dianugerahi kejernihan hati, kekuatan ketakwaan, serta kemampuan menjaga kebersamaan dalam kebajikan demi terwujudnya peradaban yang bermartabat, beretika, dan diridhai Allah SWT.

QS. Al-Baqarah (2): 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Selamat Ramadhan 1447 H

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Posting Komentar

0 Komentar