Header Ads Widget


 

MEMBANGUN PRASASTI KOLEKTIF KEUNGGULAN PTKIN–KEMENAG RI



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

UIN SUMATERA UTARA MENGUKIR 35 PENGHARGAAN: SATU JEJAK DALAM PRASASTI KOLEKTIF PKM IV PTKIN SE-SUMATERA

Refleksi oleh: Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom.
Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara

PALEMBANG — Kontingen Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Medan mengukir 35 penghargaan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) IV Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Sumatera Tahun 2026. Capaian tersebut terdiri atas 6 Juara I, 8 Juara II, 9 Juara III, 8 Juara IV atau Harapan I, dan 4 Juara V atau Harapan II.
Angka 35 menunjukkan hasil yang konkret dari sebuah kompetisi. Namun, bagi pendidikan tinggi, sebuah prestasi memiliki makna yang lebih panjang daripada angka yang tercatat dalam daftar penghargaan. Di balik setiap capaian terdapat proses pembinaan, latihan, pengembangan minat dan bakat, kesiapan mental, serta pengalaman mahasiswa dalam menghadapi kompetisi. Karena itu, prestasi dapat dibaca bukan hanya sebagai hasil akhir, melainkan sebagai bagian dari proses pendidikan yang menghasilkan pengalaman dan pengetahuan.
Di sinilah persoalan pentingnya. Apa yang terjadi setelah penghargaan diterima? Apakah pengalaman kompetisi berhenti sebagai catatan kemenangan, atau dapat diolah menjadi pengetahuan yang memperkuat pembinaan mahasiswa berikutnya? Pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar membaca prestasi menuju cara pandang yang lebih luas tentang bagaimana PTKIN membangun tradisi keunggulan secara berkelanjutan.


PKM IV PTKIN se-Sumatera Tahun 2026 diselenggarakan oleh UIN Raden Fatah Palembang melalui rangkaian kegiatan daring dan luring sejak 3 Agustus hingga 2 Oktober 2026. Kegiatan tersebut melibatkan 22 PTKIN se-Sumatera dengan 37 cabang dalam bidang ilmiah, olahraga, dan seni. Kompetisi utama diikuti 768 peserta, sedangkan keseluruhan rangkaian kegiatan melibatkan 1.072 partisipan. Grand Opening berlangsung pada 29 September 2026 di Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG), Kampus Jakabaring, UIN Raden Fatah Palembang, dan rangkaian kegiatan ditutup pada 2 Oktober 2026.
Dalam konteks tersebut, 35 penghargaan UIN Sumatera Utara dapat ditempatkan sebagai satu jejak dari proses pembinaan mahasiswa di tengah pertemuan berbagai pengalaman dan tradisi pendidikan PTKIN se-Sumatera. Jejak itu menjadi penting bukan karena harus dibandingkan dengan capaian perguruan tinggi lain, melainkan karena di dalamnya terdapat pengalaman yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan.
Dari sinilah gagasan Prasasti Kolektif Keunggulan PTKIN–Kemenag RI memperoleh relevansinya. Istilah ini bukan nama program atau sistem resmi pemerintah, melainkan sebuah gagasan konseptual untuk melihat capaian mahasiswa, karya, proses pembinaan, pengalaman kompetisi, pengetahuan, inovasi, dan praktik baik sebagai bagian dari rekam pendidikan yang dapat didokumentasikan dan dipelajari secara berkelanjutan. Dengan cara pandang tersebut, prestasi tidak berhenti sebagai hasil perlombaan, tetapi dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang memperkuat tradisi keunggulan PTKIN.


PRESTASI YANG BERAKAR PADA PENDIDIKAN DAN AKHLAK
Sebuah prestasi tidak lahir hanya pada saat mahasiswa menerima penghargaan. Ada proses panjang yang mendahuluinya, mulai dari menemukan minat dan bakat, membangun kemampuan, mengikuti pembinaan, menjalani latihan, menerima koreksi, hingga memiliki keberanian untuk tampil dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Dalam proses tersebut, prestasi dan akhlak tidak semestinya dipisahkan. Kemampuan mahasiswa perlu berkembang bersama sikap menghormati orang lain, menjunjung sportivitas, menerima hasil dengan lapang, serta tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan. Kompetisi dengan demikian tidak hanya menguji kemampuan, tetapi juga memberikan pengalaman pembentukan karakter.

Pandangan tersebut selaras dengan perhatian Rektor UIN Sumatera Utara Yang Mulia Ibunda Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag., terhadap pengembangan mahasiswa. Pembinaan mahasiswa diarahkan agar mereka mampu berprestasi sekaligus memiliki karakter dan akhlak yang dapat menjadi landasan ketika kemampuan tersebut digunakan di tengah masyarakat. Capaian tersebut juga menjadi bagian dari ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus apresiasi atas ikhtiar dan prestasi mahasiswa.
Karena itu, 35 penghargaan tersebut lebih tepat dipahami sebagai hasil dari proses pembinaan yang masih dapat dikembangkan. Pengalaman para peserta dapat menjadi bahan evaluasi bagi pembina, lembaga, dan mahasiswa berikutnya agar pembinaan semakin terarah dan berkelanjutan.

Ket.foto : Yang Mulia Bapak Prof. Dr. KH. Amien Suyitno, M.Ag.( Dirjen Pendis Kemenag RI ), bersama Dr Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom ( Wadek III FIS UIN Sumut)

PTKIN–KEMENAG RI: DARI PEMBINAAN MENUJU EKOSISTEM KEUNGGULAN
Pengembangan prestasi mahasiswa membutuhkan lingkungan pendidikan yang memungkinkan talenta tumbuh. Pembinaan, pengembangan minat dan bakat, kesempatan mengikuti kompetisi, serta dukungan kelembagaan saling berkaitan dalam membentuk ekosistem tersebut.
Dalam konteks pembinaan kemahasiswaan UIN Sumatera Utara, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIN Sumatera Utara Yang Dimuliakan Bapak Prof. Dr. KH Katimin, M.A., memiliki peran dalam mengarahkan proses pembinaan mahasiswa. Pembinaan tidak berhenti pada persiapan menghadapi kompetisi, tetapi juga menyangkut kesiapan mahasiswa menjalani proses, menjaga sikap, dan mengambil pelajaran dari pengalaman yang diperoleh.
PKM menjadi salah satu ruang yang mempertemukan proses tersebut dengan pengalaman nyata. Mahasiswa berhadapan dengan peserta dari berbagai PTKIN, menguji kemampuan, menerima penilaian, dan memperoleh pengalaman yang tidak seluruhnya dapat diperoleh di ruang kelas.
Dalam lingkup yang lebih luas, proses pembinaan mahasiswa PTKIN juga berada dalam ekosistem Kementerian Agama Republik Indonesia. Karena itu, prestasi mahasiswa dapat dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan yang memiliki kesinambungan antara kebijakan kelembagaan, pembinaan, pengembangan potensi, dan pengalaman mahasiswa.


Orientasi pendidikan tersebut juga sejalan dengan perhatian Menteri Agama RI Almukarrom Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. terhadap penguatan nilai cinta, kepedulian, dan karakter dalam pendidikan. Nilai tersebut memperoleh ruang aktualisasi ketika mahasiswa mengembangkan ilmu dan kemampuan sekaligus belajar menempatkan prestasi dalam kerangka kemanfaatan.
KBC MENEMUKAN RUANG AKTUALISASI MELALUI PKM
Dari nilai menuju pengalaman, KBC menemukan ruang aktualisasinya melalui PKM.


Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) membawa orientasi melalui lima kecintaan: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia, serta cinta tanah air. Nilai-nilai tersebut membutuhkan ruang pendidikan agar tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diwujudkan dalam pengalaman mahasiswa.
Dalam hubungan itu, KBC memberikan orientasi nilai, sedangkan PKM menyediakan ruang pengalaman melalui pembinaan, kreativitas, karya, interaksi, kompetisi, dan prestasi. Keduanya tidak berada pada fungsi yang sama, tetapi dapat saling melengkapi dalam proses pendidikan.
Pada saat mahasiswa mengikuti kompetisi, kemampuan mereka diuji melalui karya dan penampilan. Pada saat yang sama, mereka belajar menghormati peserta lain, menerima hasil penilaian, menjaga sportivitas, dan memahami bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran dari proses pendidikan.

Dalam Grand Opening PKM IV PTKIN se-Sumatera, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Yang Dimuliakan Bapak Prof. Dr. KH Amien Suyitno, M.Ag., menekankan pentingnya mahasiswa PTKIN memiliki kemampuan multitalenta. Kemampuan keagamaan dapat berkembang bersama prestasi dalam bidang olahraga dan seni, dengan tetap menjaga kebanggaan sebagai bagian dari PTKIN dan semangat sportivitas.
Pesan tersebut memberikan konteks bahwa pendidikan tinggi keagamaan memiliki ruang yang luas bagi pengembangan potensi mahasiswa. Penguasaan ilmu, kreativitas, kemampuan berkompetisi, dan pembentukan karakter dapat berjalan dalam satu proses pendidikan.
Dengan demikian, prestasi tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari pembinaan, memperoleh arah dari nilai, dan mendapatkan makna melalui karakter serta pengalaman yang menyertainya.


DARI JUARA MENUJU PEMBELAJARAN: PRESTASI DALAM SINERGI TRIDARMA
Kompetisi berakhir, tetapi proses pendidikan tidak berhenti. Pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama mengikuti PKM dapat menjadi bahan pembelajaran untuk pembinaan berikutnya. Di sinilah prestasi dapat dihubungkan secara proporsional dengan Tridarma perguruan tinggi: pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Hubungan tersebut bukan berarti setiap prestasi secara otomatis menjadi kegiatan penelitian atau pengabdian. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman kompetisi dapat memberikan bahan evaluasi bagi pendidikan, membuka pertanyaan untuk pengembangan pengetahuan, dan memberikan pengalaman yang dapat memperkaya proses pengabdian.
Misalnya, pola pembinaan, pengembangan talenta, pengalaman mahasiswa, dan strategi persiapan kompetisi dapat didokumentasikan sebagai pengetahuan kelembagaan. Pengalaman tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki pembinaan dan mendukung regenerasi mahasiswa.
Dengan cara demikian, prestasi memiliki kesinambungan dengan proses pendidikan. Capaian tidak berhenti pada penghargaan, tetapi dapat kembali menjadi bahan pembelajaran bagi institusi dan generasi berikutnya.


PRASASTI KOLEKTIF: DARI REKAM PRESTASI MENJADI WARISAN PENGETAHUAN
Pada titik inilah gagasan Prasasti Kolektif menjadi relevan. Prasasti dalam tulisan ini merupakan metafora untuk rekam pengetahuan yang dibangun melalui dokumentasi terhadap capaian dan proses yang melahirkannya.
Jika sebuah prestasi hanya dicatat sebagai hasil akhir, sebagian besar pengalaman di baliknya dapat hilang bersama berakhirnya kompetisi. Sebaliknya, jika proses pembinaan, karya, metode latihan, pengalaman peserta, evaluasi, dan praktik baik turut didokumentasikan, capaian tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi periode berikutnya.
Karena itu, 35 penghargaan UIN Sumatera Utara ditempatkan sebagai satu jejak, bukan sebagai ukuran untuk membandingkan atau meranking PTKIN. Di dalam PKM IV PTKIN se-Sumatera terdapat banyak pengalaman dan capaian dari berbagai perguruan tinggi. Masing-masing dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan bersama.
Gagasan Prasasti Kolektif mengarah pada kebiasaan untuk menjaga rekam tersebut: mendokumentasikan karya, mengarsipkan pengalaman kompetisi, mencatat proses pembinaan, menghimpun praktik baik, serta membuka ruang pertukaran pengalaman antarkampus. Dengan cara itu, pengetahuan yang lahir dari pengalaman mahasiswa tidak berhenti pada individu atau satu periode kegiatan.
DARI EVENT MENUJU EKOSISTEM
PKM akan memiliki makna yang lebih panjang apabila pengalaman kompetisi diikuti dengan evaluasi dan pembelajaran. Setelah kompetisi selesai, institusi dapat melihat kembali proses yang telah berlangsung: bagaimana talenta ditemukan, bagaimana pembinaan dilakukan, apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana mahasiswa berikutnya dapat memperoleh pembinaan yang lebih baik.
Proses semacam itu mempertemukan kompetisi dengan ekosistem pendidikan. Talenta dikembangkan melalui pembinaan, kemampuan diuji melalui kompetisi, pengalaman dievaluasi, hasil didokumentasikan, dan pengetahuan digunakan kembali untuk regenerasi.
Pada saat yang sama, hubungan antarmahasiswa, pembina, dosen, dan perguruan tinggi dapat berkembang melalui pertukaran pengalaman. Apa yang berhasil di satu tempat dapat menjadi bahan pembelajaran bagi tempat lain, tanpa harus menjadikan satu perguruan tinggi sebagai ukuran bagi perguruan tinggi lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, PKM tidak hanya meninggalkan daftar pemenang, tetapi juga meninggalkan pengalaman pendidikan yang dapat terus dikembangkan.
DARI PRESTASI MENUJU PERADABAN DUNIA
PTKIN memiliki ruang penting dalam proses tersebut. Mahasiswa belajar mengembangkan ilmu, menghasilkan karya, mengasah kreativitas, mengikuti penelitian, berinteraksi dengan masyarakat, dan membangun karakter. Ketika pengalaman tersebut terdokumentasi dan dikembangkan secara berkelanjutan, terbentuk pengetahuan kelembagaan yang dapat memperkuat generasi berikutnya.
Dalam kerangka itu, prestasi menjadi salah satu indikator dari proses yang lebih luas. Pembinaan memberikan ruang bagi potensi mahasiswa untuk berkembang; ilmu memberikan dasar bagi kemampuan; akhlak memberikan arah dalam menggunakan kemampuan; inovasi membuka kemungkinan baru; sedangkan pengabdian menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, 35 penghargaan UIN Sumatera Utara dapat dibaca sebagai satu pengalaman konkret dalam perjalanan pendidikan PTKIN. Nilainya tidak hanya terletak pada jumlah penghargaan, tetapi pada sejauh mana pengalaman tersebut dapat dipelajari, didokumentasikan, dan dikembangkan untuk pembinaan berikutnya.
Jika proses tersebut berlangsung secara konsisten di berbagai PTKIN, maka capaian yang semula bersifat individual atau kelembagaan dapat berkembang menjadi pengetahuan bersama. Pengetahuan bersama itulah yang kemudian dapat memperkuat tradisi keunggulan dan memperluas kontribusi PTKIN Indonesia bagi masyarakat dan peradaban dunia.
PRASASTI YANG DITULIS BERSAMA
PKM IV PTKIN se-Sumatera Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh UIN Raden Fatah Palembang mempertemukan 22 PTKIN dalam ruang kompetisi sekaligus ruang pembelajaran. Karena itu, keberhasilan penyelenggaraan tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan atau perlombaan, tetapi juga dengan terbentuknya pengalaman bersama yang dapat menjadi bahan pengembangan pendidikan.
Penghormatan dan apresiasi patut disampaikan kepada Rektor UIN Raden Fatah Palembang Yang Dimuliakan Bapak Prof. Dr. KH Muhammad Adil, M.A., beserta sivitas akademika, panitia, pembina, pendamping, dan seluruh peserta yang telah mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Dalam perspektif Prasasti Kolektif, setiap pihak memiliki kontribusi dalam membangun pengetahuan pendidikan. Mahasiswa memberikan pengalaman melalui proses dan karya. Pembina memberikan pendampingan. Dosen mengembangkan ilmu. Pimpinan menyediakan kebijakan dan ruang pembinaan. Perguruan tinggi menjaga ekosistem. Kementerian memberikan arah kebijakan. Seluruh unsur tersebut saling melengkapi dalam proses pendidikan.
Karena itu, 35 penghargaan UIN Sumatera Utara ditempatkan secara proporsional sebagai satu jejak dalam keseluruhan pengalaman PKM IV PTKIN se-Sumatera. Jejak tersebut tidak berhenti sebagai catatan kemenangan, tetapi dapat dikembangkan menjadi pembelajaran yang dapat diwariskan.
Pada akhirnya, Prasasti Kolektif dapat memberi hikmah bagi pengembangan pendidikan. Dengan cara pandang itu, prestasi mahasiswa dapat menjadi bagian dari pengetahuan, pembinaan, regenerasi, dan pengembangan tradisi keunggulan PTKIN sebagai wujud kontribusi bagi peradaban dunia.






عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا».

Artinya:
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, niscaya baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, niscaya baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka.”
Takhrij: Sahih Muslim, Kitab al-‘Ilm, no. 2674.

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Posting Komentar

0 Komentar