بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
MEDAN, Selasa, 6 Oktober 2026 — Dalam suasana silaturahim akademik dan kemahasiswaan yang penuh penghormatan, Abanganda Hairul Fahmi, Sekretaris Pusat DEMA PTKIN Se-Indonesia, melaksanakan “Jemput Pituah” kepada Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara.
Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar pandangan, memohon arahan, serta menyerap nasihat dalam memperkuat peran mahasiswa PTKIN sebagai generasi penerus yang memiliki keluasan ilmu, keluhuran akhlak, kepedulian sosial, dan komitmen pengabdian bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dalam dialog tersebut dibahas penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)–Panca Cinta sebagai ikhtiar membangun karakter mahasiswa PTKIN yang tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kematangan sosial, dan kesadaran sebagai bagian dari pembangunan peradaban.
Abanganda Hairul Fahmi, yang juga merupakan Demisioner Presiden Mahasiswa UIN Sumatera Utara Periode 2024–2025, menyampaikan pentingnya sinergi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan organisasi kemahasiswaan dalam memperkuat moderasi beragama, budaya intelektual, serta menghadirkan gerakan mahasiswa yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara, menyampaikan bahwa pendidikan tinggi Islam memiliki tanggung jawab besar dalam melahirkan insan akademik yang tidak hanya cerdas secara keilmuan, tetapi juga memiliki adab, integritas, kepedulian sosial, dan keseimbangan antara ilmu, iman, serta pengabdian.
Menurutnya, arah transformasi pendidikan Islam perlu terus memperkuat nilai cinta, kasih sayang, moderasi beragama, akhlak mulia, kepedulian sosial, dan kemaslahatan umat. Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)–Panca Cinta tersebut menjadi bagian dari ikhtiar transformasi pendidikan Islam yang terus diperkuat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Agama Republik Indonesia, Almukarrom Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.
Melalui semangat KBC, pendidikan Islam diarahkan untuk semakin menghadirkan generasi yang berilmu, beradab, memiliki kepedulian sosial, serta bertanggung jawab terhadap agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menghadirkan paradigma pendidikan yang menjadikan nilai cinta sebagai ruh pembentukan karakter. Cinta tidak berhenti pada pemahaman emosional, tetapi menjadi nilai luhur yang membimbing cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Penguatan KBC diwujudkan melalui lima unsur Panca Cinta, yaitu:
Pertama, cinta kepada Allah SWT, dengan meneguhkan keimanan, ketakwaan, keikhlasan, dan kesadaran bahwa aktivitas menuntut ilmu merupakan bagian dari ibadah serta pengabdian kepada Allah SWT.
Kedua, cinta kepada Rasulullah SAW, dengan meneladani nilai-nilai kenabian (ṣiddīq, amānah, tablīgh, dan faṭānah) dalam kehidupan akademik, organisasi, dan kemasyarakatan.
Ketiga, cinta kepada sesama manusia, dengan menumbuhkan kepedulian sosial, ukhuwah, penghormatan terhadap keberagaman, serta semangat moderasi beragama yang menghadirkan kemaslahatan dan kedamaian.
Keempat, cinta kepada ilmu pengetahuan, dengan membangun budaya literasi, penelitian, inovasi, kreativitas, serta menghasilkan karya akademik yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kelima, cinta kepada tanah air dan lingkungan, dengan memperkuat komitmen kebangsaan, menjaga persatuan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta merawat lingkungan sebagai amanah bersama.
Semangat kepedulian tersebut juga selaras dengan imbauan Menteri Agama RI agar seluruh jajaran Kementerian Agama hingga tokoh agama bergerak bersama membantu sesama dan menjadi bagian dari Agen Perlindungan Sosial (Perlinsos).
Gerakan tersebut menegaskan pentingnya kepedulian sosial yang dilakukan secara bersama, tepat sasaran, dan bertanggung jawab dengan menjadikan data sebagai dasar utama dalam memberikan bantuan maupun pelayanan kepada masyarakat.
Pendekatan berbasis data menjadi ikhtiar agar perlindungan sosial berjalan akurat, terarah, dan menghadirkan manfaat nyata.
Bagi mahasiswa PTKIN, nilai-nilai tersebut menjadi ruang pengabdian nyata untuk menerjemahkan Panca Cinta melalui langkah konkret: memperkuat budaya literasi dan riset, aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menjaga moderasi beragama, membangun dialog kebangsaan, menghadirkan inovasi, serta menjadi pelopor kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Dalam silaturahim tersebut, Abanganda Hairul Fahmi juga menyampaikan permohonan restu, arahan, dan pandangan terkait pelaksanaan Konsolidasi Nasional (Konsolnas) III DEMA PTKIN Se-Indonesia yang akan dilaksanakan di UIN Sumatera Utara pada 21–26 Oktober 2026.
Konsolnas III DEMA PTKIN Se-Indonesia diharapkan menjadi momentum mempererat ukhuwah, memperkuat konsolidasi gagasan, serta membangun sinergi mahasiswa PTKIN seluruh Indonesia dalam menghadirkan kader peradaban yang berilmu, berakhlak, moderat, dan memiliki kepedulian sosial.
Pada kesempatan yang sama, Abanganda Hairul Fahmi menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) IV PTKIN Se-Sumatera Tahun 2026 yang berlangsung pada 29 September–2 Oktober 2026 dengan UIN Raden Fatah Palembang sebagai tuan rumah.
Melalui semangat “Jemput Pituah”, silaturahim ini menjadi ikhtiar mempertemukan ilmu, pengalaman, dan gagasan lintas generasi untuk memperkuat mahasiswa PTKIN sebagai kader peradaban yang unggul dalam ilmu, luhur dalam adab, moderat dalam sikap, serta siap memberikan kontribusi menuju Indonesia Emas 2045.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 Komentar