بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Oleh: Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.KOM
Sebelum perjalanan Isra’ Mi‘raj, Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam menghadapi kompleksitas tantangan dakwah yang juga merupakan ihtibār al-qalb (ujian hati). Tulisan ini menyoroti pra-Isra’ Mi‘raj, masa hambatan dakwah dan kesabaran, yang menjadi tauladan (uswatun hasanah) dalam kesabaran, keikhlasan, dan istiqāmah, memberi ketauladanan bagi umat sepanjang zaman.
Lintasan ini menegaskan makna uswatun hasanah, yaitu keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan sebagai panduan hidup yang diridhai Allah, sehingga setiap langkah dalam dakwah menjadi cermin iman yang teguh dan akhlaqul karīmāh.
Hambatan Dakwah dan Kesabaran Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam
Pra-Isra’ Mi‘raj menampilkan kompleksitas tantangan dakwah dan ujian hati (ihtibār al-qalb), dengan beberapa titik penting:
1. Khadijah binti Khuwailid radhiyallāhu ‘anhā
Istri Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, Ummul Mu’minīn, pendamping dan pendukung utama dakwah beliau.
Saat itu Khadijah R.A wafat, sehingga Nabi ﷺ menghadapi tantangan dakwah yang lebih kompleks, memperkuat istiqāmah dan keikhlasan beliau.
2. Abu Thalib bin ‘Abdul Muttalib radhiyallāhu ‘anhu
Paman Nabi ﷺ yang selama hidupnya memberikan perlindungan sosial dan moral.
Dengan wafatnya Abu Thalib, Nabi ﷺ tetap menjaga keteguhan hati dan istiqāmah, menghadapi tekanan dakwah yang lebih berat.
3. Perjalanan ke Ṭā’if
Tahap ini merupakan peneguhan karakter di mana Nabi ﷺ menghadapi tantangan dakwah yang luar biasa.
Mencontohkan tauladan (uswatun hasanah) dalam istiqāmah, kesabaran, dan keikhlasan, mempersiapkan fondasi bagi penguatan risalah sebelum Isra’ Mi‘raj.
4. Jeda Wahyu dan Malaikat Jibril
Pada periode ini, terdapat tenggang jeda wahyu, saat Malaikat Jibril tidak hadir, sehingga Nabi ﷺ menghadapi ihtibār al-qalb (ujian hati) yang intens.
Masa jeda ini menjadi momentum penguatan hati, mencontohkan tauladan (uswatun hasanah) dalam menantikan bimbingan, menjaga istiqāmah di tengah kompleksitas dakwah.
Lintasan ini memberikan tauladan akhlāqul karīmāh, mencontohkan bagaimana istiqāmah, kesabaran, dan keikhlasan tetap terjaga meski menghadapi tantangan dakwah yang kompleks, dan menyiapkan fondasi bagi penguatan risalah sebelum Isra’ Mi‘raj.
Titik Peneguhan Pra-Isra’ Mi‘raj
Pra-Isra’ Mi‘raj adalah titik peneguhan dari bumi menuju langit. Kompleksitas tantangan dakwah, termasuk jeda wahyu saat Malaikat Jibril tidak hadir, mencontohkan tauladan (uswatun hasanah) dalam istiqāmah, kesabaran, dan keikhlasan, sehingga menjadi panduan bagi umat menapaki perintah Allah ﷻ dengan teguh.
Setiap kesulitan dan tantangan adalah persiapan menuju penguatan risalah, dan istiqāmah Nabi ﷺ menjadi fondasi bagi umat menapaki akhlaqul karīmāh dan membangun peradaban yang mulia husnul khatimah.
“Dari bumi ke langit” bukan sekadar diperjalankan, tetapi simbol kesiapan jiwa untuk menerima cahaya penguatan risalah maha sempurna,
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Lā ilāha illallāh, Muhammadun Rasūlullāh.

0 Komentar