Header Ads Widget


 

Merawat Kurikulum Cinta: Dari Outbound FIS UIN Sumatera Utara Menuju Tata Kelola SDM Berbasis Maqāṣid al-Syarī‘ah


Ket Foto: Dekan FIS UIN Sumut - Bapak Prof Dr H Mesiono, M.Pd

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Berastagi, 29 April 2026
Di tengah arus besar transformasi pendidikan tinggi Islam yang menuntut profesionalitas dan daya saing global, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara UIN Sumut menghadirkan pendekatan yang tidak lazim namun mendalam, yaitu merawat kurikulum cinta sebagai basis tata kelola sumber daya manusia SDM. Agenda outbound yang digelar di Sibayak Hotel Berastagi bukan sekadar rekreasi kelembagaan, melainkan ruang praksis untuk menghidupkan nilai uswatun ḥasanah dalam lanskap akademik modern.
Konsep kurikulum cinta yang diusung tidak berhenti pada retorika etik, melainkan berakar pada tradisi nubuwwah yang menempatkan manusia sebagai subjek peradaban. Dalam kerangka ini, nilai nilai profetik seperti ṣidq kejujuran, amānah tanggung jawab, tablīgh komunikasi yang mencerahkan, serta faṭānah kecerdasan ditransformasikan menjadi etos kerja kelembagaan.
Al Qur’an secara tegas menegaskan pentingnya keteladanan sebagai fondasi perubahan sosial

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah QS Al Ahzab ayat 21
Ayat ini bukan sekadar legitimasi normatif, tetapi arah epistemologis bahwa tata kelola termasuk pengelolaan SDM harus berangkat dari keteladanan, bukan sekadar regulasi. Dalam konteks ini, outbound menjadi medium praksis untuk membangun kepercayaan trust building, empati kolektif, serta kesadaran bahwa institusi tidak hanya berdiri di atas sistem, tetapi juga pada kualitas moral manusianya.
Lebih jauh, jika ditarik dalam kerangka maqāṣid al syarī‘ah, langkah yang ditempuh FIS UIN Sumatera Utara memiliki resonansi yang kuat. Penguatan SDM berbasis nilai bukan hanya strategi manajerial, tetapi bagian dari menjaga lima prinsip utama
Pertama ḥifẓ al dīn menjaga agama melalui internalisasi nilai nubuwwah dalam tata kelola sehingga aktivitas akademik tidak terlepas dari orientasi ilahiah
Kedua ḥifẓ al nafs menjaga jiwa melalui pendekatan humanis yang memperkuat kesehatan psikologis, kebersamaan, dan rasa aman dalam bekerja
Ketiga ḥifẓ al ‘aql menjaga akal melalui penguatan diskursus, refleksi kolektif, inovasi, serta daya pikir strategis SDM
Keempat ḥifẓ al nasl menjaga generasi melalui tata kelola SDM yang melahirkan ekosistem pendidikan yang sehat bagi mahasiswa sebagai penerus peradaban
Kelima ḥifẓ al māl menjaga institusi melalui profesionalitas dan akuntabilitas yang berdampak pada efisiensi dan keberlanjutan kelembagaan.
Dalam perspektif ini, outbound tidak lagi dapat dipandang sebagai kegiatan pinggiran, melainkan instrumen strategis dalam membangun karakter institusi. Ia menjadi jembatan antara nilai dan sistem, antara visi dan implementasi.
FIS UIN Sumatera Utara tampaknya sedang mengirimkan pesan penting bahwa reformasi kelembagaan tidak cukup dengan kebijakan administratif semata. Dibutuhkan keberanian untuk mengintegrasikan dimensi spiritual, emosional, dan intelektual dalam satu tarikan nafas yang utuh.
Di tengah tantangan globalisasi pendidikan, pendekatan ini menghadirkan alternatif paradigma bahwa keunggulan tidak hanya diukur dari capaian indikator kinerja, tetapi juga dari kedalaman nilai yang menggerakkan setiap individu di dalamnya.
Pada akhirnya, merawat kurikulum cinta adalah merawat masa depan. Sebab dari sanalah lahir manusia manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab, tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki kesadaran profetik dalam membangun peradaban.

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم


Posting Komentar

0 Komentar