Header Ads Widget


 

HARI HARIMAU SEDUNIA 2026 29 Juli 2026 | Global Tiger Day - Perspektif ekoteologi


Ket Foto : Hari ini, Mahasiswa Penggerak Ekoteologi, Bincang Hari Harimau Sedunia bersama Wakil Dekan III FIS - UIN Sumut

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HARIMAU SUMATRA
Wiqayah Peradaban Dunia
Ekoteologi Sumatera: Warisan Leluhur, Marwah Indonesia, Marwah Masyarakat Sumatera
Merawat Hutan sebagai Rumah Kehidupan, Melindungi Harimau Sumatra dan Seluruh Satwa yang Dilindungi, Menjaga Amanah Allah SWT bagi Generasi Kini dan Generasi Mendatang, 
Oleh : Tuan M Yoserizal Saragih

Hari ini, Rabu, 29 Juli 2026, dunia memperingati Hari Harimau Sedunia (Global Tiger Day). Peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan konservasi, melainkan seruan nurani bagi seluruh umat manusia untuk menjaga Harimau Sumatra, melestarikan seluruh satwa yang dilindungi, dan merawat hutan sebagai rumah kehidupan yang menopang keberlangsungan bumi.
Bagi Indonesia, khususnya Sumatera, Harimau Sumatra bukan sekadar satwa endemik. Ia merupakan penjaga keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis, bagian dari warisan leluhur, marwah Indonesia, dan marwah masyarakat Sumatera. Selama Harimau Sumatra tetap lestari, hutan tetap hidup. Selama hutan tetap hidup, air tetap mengalir, udara tetap bersih, dan kehidupan seluruh makhluk tetap terpelihara.

Hutan tidak pernah kosong. Hutan adalah ruang kehidupan yang Allah SWT ciptakan dengan keseimbangan yang sempurna. Di dalamnya hidup Harimau Sumatra, gajah, badak, orangutan, burung, pepohonan, sungai, serta jutaan makhluk lainnya yang saling menopang dalam satu jalinan kehidupan. Setiap makhluk memiliki fungsi, setiap kehidupan memiliki hikmah, dan setiap keseimbangan merupakan bagian dari sunnatullah.

Sejak dahulu, para leluhur masyarakat Sumatera telah mewariskan kearifan yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Dalam sejumlah tradisi lisan di berbagai komunitas adat, Harimau Sumatra dipanggil dengan sebutan penuh hormat seperti Nini, Nenek, Oppung, atau Datok. Penyebutan tersebut bukan untuk mengultuskan harimau, melainkan untuk menanamkan adab agar manusia tidak bertindak sewenang-wenang terhadap satwa liar maupun hutan yang menjadi habitatnya.
Kearifan lokal ini merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang patut dijaga dan diwariskan sebagaimana tradisi-tradisi luhur lainnya di seluruh Indonesia. Nilai yang diwariskan para leluhur mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri di bumi. Alam adalah ruang kehidupan bersama, tempat setiap makhluk memperoleh ruang hidup sesuai ketetapan Sang Pencipta.

Kesadaran inilah yang mengalir dalam Ekoteologi Sumatera. Manusia memikul amanah sebagai khalifah fil ardh untuk memakmurkan bumi, menjaga mizan (keseimbangan), mencegah fasad (kerusakan), serta menghadirkan rahmatan lil 'alamin dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya ; "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya."
(QS. Al-A'raf: 56).

Sering kali hati terasa miris ketika mendengar kabar, "Harimau Sumatra masuk ke permukiman warga," atau "Satwa liar memasuki pekarangan masyarakat." Kalimat-kalimat tersebut sering kali menempatkan satwa sebagai penyebab persoalan.
Namun, kita juga perlu melihat kenyataan secara utuh. Dalam banyak kasus, ruang hidup satwa semakin menyempit akibat perubahan bentang alam dan berkurangnya habitat. Karena itu, kita patut bertanya kepada diri sendiri: apakah Harimau Sumatra memasuki ruang hidup manusia, ataukah manusia yang semakin mempersempit ruang hidup Harimau Sumatra?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan itu adalah ajakan untuk membangun kesadaran bahwa keselamatan manusia dan kelestarian satwa harus dijaga secara bersamaan.


Pembangunan, konservasi, dan perlindungan lingkungan harus berjalan seiring agar manusia dan satwa dapat hidup berdampingan secara harmonis.
Menjaga Harimau Sumatra bukan sekadar menyelamatkan satu spesies. Menjaga Harimau Sumatra berarti menjaga hutan. Menjaga hutan berarti menjaga sumber air. Menjaga sumber air berarti menjaga kehidupan. Menjaga kehidupan berarti menjaga warisan leluhur, marwah Indonesia, marwah masyarakat Sumatera, dan keberlanjutan peradaban dunia.

Pada Hari Harimau Sedunia 2026, marilah kita merapatkan barisan dan bergandeng tangan. Perkuat koordinasi, sinergi, dan kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, pengelola kawasan konservasi, perguruan tinggi, masyarakat adat, tokoh agama, organisasi konservasi, dunia usaha, media, generasi muda, serta seluruh elemen masyarakat untuk menjaga Harimau Sumatra, melestarikan seluruh satwa yang dilindungi, memulihkan habitatnya, menghentikan perburuan liar, memberantas perdagangan satwa ilegal, dan menjaga hutan Indonesia secara berkelanjutan.

Jangan biarkan anak cucu kita hanya mengenal Harimau Sumatra melalui gambar, cerita, atau catatan sejarah. Wariskan kepada mereka hutan yang tetap hijau, sungai yang tetap mengalir, dan alam yang tetap menghadirkan kehidupan.
Mari kita juga menengadahkan tangan, memanjatkan doa agar Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Harimau Sumatra, seluruh satwa yang dilindungi, hutan-hutan Indonesia, bumi Nusantara, dan seluruh alam semesta. Semoga rahmat-Nya senantiasa menjaga keseimbangan kehidupan, menguatkan ikhtiar konservasi, dan menumbuhkan kesadaran kolektif untuk terus merawat ciptaan-Nya.


Ya Allah, jadikanlah kami penjaga, bukan perusak, perawat, bukan penghancur, pewaris yang bertanggung jawab, bukan penghabis warisan. Limpahkanlah rahmat-Mu kepada Harimau Sumatra, seluruh satwa yang dilindungi, hutan-hutan Indonesia, bumi Nusantara, dan seluruh alam semesta. Bimbinglah kami agar senantiasa menunaikan amanah sebagai khalifah fil ardh dengan hikmah, keadilan, dan kasih sayang. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Dari hutan-hutan Sumatera lahir sebuah pesan yang melintasi ruang, waktu, dan generasi: peradaban yang agung bukanlah peradaban yang menaklukkan alam, melainkan peradaban yang menjaga kehidupan.
Harimau Sumatra adalah warisan leluhur. Hutan Sumatera adalah amanah bersama. Kearifan lokal adalah marwah Nusantara.
Dari Sumatera untuk Indonesia, dari Indonesia untuk Dunia.

HARIMAU SUMATRA, WIQAYAH PERADABAN DUNIA.

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Posting Komentar

0 Komentar