Header Ads Widget


 

ALMUKARRAM PROF. DR. KH. NASARUDDIN UMAR, M.A. Murobbi Nusantara untuk Semesta


Ket Foto: Menteri Agama RI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ALMUKARRAM PROF. DR. KH. NASARUDDIN UMAR, M.A.
Murobbi Nusantara untuk Semesta
Oleh: Tuan M Yoserizal Saragih

Medan. Ada sosok yang kehadirannya tidak cukup dipahami melalui jabatan, gelar, maupun deretan karya. Kiprahnya dapat dilihat melalui ilmu yang dibagikan, adab yang ditanamkan, keteladanan yang ditunjukkan, serta manusia-manusia yang tumbuh dan belajar melalui perjalanan keilmuannya.
Dalam perspektif itulah Almukarram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. dipandang sebagai ulama dan intelektual yang perjalanan keilmuannya mempertemukan kedalaman tradisi Islam dengan keluasan pengalaman Nusantara.
Ungkapan “Murobbi Nusantara untuk Semesta” bukan sekadar rangkaian kata penghormatan. Ia menjadi cara membaca kiprah keilmuan dan pengabdian beliau: adab yang melandasi ilmu, ilmu yang melahirkan hikmah, hikmah yang membentuk keteladanan, keteladanan yang menggerakkan pengabdian, pengabdian yang berakar di Nusantara, kemaslahatan yang dihadirkan bagi kehidupan, dan nilai-nilai kebaikan yang memberikan kontribusi bagi peradaban.
Adab sebagai Landasan Ilmu
Dalam tradisi Islam, ilmu tidak semata-mata dipahami sebagai akumulasi pengetahuan. Ilmu berjalan bersama adab, akhlak, penyucian jiwa, dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
QS. Al-Jumu‘ah: 2
Rangkaian ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam mencakup pembentukan manusia sekaligus pengajaran ilmu. Tazkiyah dan ta‘līm berjalan dalam proses pembinaan yang saling menguatkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”
Al-Adab al-Mufrad, no. 273.
Hadis tersebut menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari misi risalah. Dengan demikian, ilmu yang dipelajari dalam tradisi Islam semestinya membentuk manusia yang semakin mengenal tanggung jawabnya kepada Allah SWT dan kepada sesama.
Dalam membaca kiprah seorang ulama, keluasan ilmu dan karya berjalan bersama perhatian terhadap sikap, akhlak, cara membimbing, cara menghadapi perbedaan, serta kesediaan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Ilmu yang Melahirkan Hikmah
Ilmu yang mendalam tidak berhenti pada kemampuan mengetahui. Ilmu mengantarkan manusia kepada pemahaman yang benar, pertimbangan yang matang, dan kemampuan menempatkan sesuatu secara tepat.
Allah SWT berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
QS. Al-Baqarah: 269
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya dalam urusan agama...”
Sahih al-Bukhari, no. 71.
Ilmu yang bernilai tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menumbuhkan pemahaman, ketepatan sikap, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.
Di sinilah makna murobbi menjadi penting. Murobbi bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan pendidik dan pembimbing yang membantu manusia bertumbuh dalam ilmu, adab, hikmah, dan tanggung jawab.
Hikmah yang Tumbuh Menjadi Keteladanan
Hikmah memperoleh bentuk yang dapat dilihat dalam kehidupan melalui keteladanan.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
QS. Al-Ahzab: 21
Rasulullah ﷺ adalah uswah hasanah utama bagi umat. Keteladanan manusia setelah beliau merupakan ikhtiar mengikuti petunjuknya.

Dalam kehidupan seorang pendidik dan ulama, keteladanan tampak ketika ilmu yang disampaikan berusaha diwujudkan dalam akhlak. Apa yang diajarkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tercermin dalam cara memperlakukan manusia, menjalankan amanah, menyikapi perbedaan, dan menghadapi persoalan kehidupan.
Kiprah seorang murobbi juga terlihat melalui manusia yang dibimbingnya, generasi yang belajar darinya, gagasan yang terus dikembangkan, serta nilai keilmuan dan akhlak yang terus ditularkan dalam kehidupan.
Keteladanan yang Menggerakkan Pengabdian
Keteladanan yang baik tidak berhenti pada pribadi. Ia menggerakkan pengabdian.
Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu...”
QS. Ali Imran: 159
Kelembutan bukan kelemahan. Ia merupakan bagian dari hikmah dalam membimbing manusia. Keteguhan pada prinsip dapat berjalan bersama kelembutan dalam cara menyampaikannya.
Pengabdian memperoleh bentuknya sebagai khidmah: kesediaan mendidik, melayani, membantu, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
HR. Muslim, Sahih Muslim, no. 1893.
Ilmu yang telah melahirkan hikmah dan keteladanan bergerak menuju tanggung jawab sosial. Pengabdian menjadi bentuk nyata dari ilmu yang memberi manfaat.
Pengabdian yang Berakar di Nusantara
Dalam konteks itulah Nusantara menjadi ruang penting bagi pengabdian.
Nusantara bukan batas bagi universalitas Islam. Ia merupakan ruang tempat manusia hidup, belajar, berinteraksi, dan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kenyataan sosial yang beragam.
Allah SWT berfirman:
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
QS. Asy-Syu‘ara: 214
Prinsip kedekatan dan prioritas juga tampak dalam hadis ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه ke Yaman:
ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah. Jika mereka menaati hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka lima salat setiap hari dan malam. Jika mereka menaati hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah pada harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”
Sahih al-Bukhari, no. 1395.
Prinsip tersebut tidak dimaksudkan untuk membangun fanatisme terhadap wilayah, suku, atau bangsa. Ia menunjukkan bahwa pengabdian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, dari masyarakat tempat seseorang hidup dan memikul tanggung jawabnya, kemudian diperluas sesuai kemampuan dan amanah.

Berakar di Nusantara berarti memahami konteks masyarakat, menghargai keragaman budaya yang tidak bertentangan dengan syariat, merawat persaudaraan, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dengan ilmu, hikmah, dan akhlak.
Akar yang kuat bukan batas bagi pertumbuhan. Ia menjadi tempat tumbuhnya kontribusi yang dapat diperluas kepada kehidupan yang lebih luas.
Dari Nusantara untuk Semesta
Dari sinilah makna “untuk Semesta” memperoleh tempatnya.
Ungkapan tersebut bukan klaim tentang kedudukan universal seorang tokoh. Ia menunjuk kepada keluasan arah pengabdian: agar ilmu, pendidikan, keteladanan, dan khidmah yang tumbuh dari pengalaman Nusantara dapat memberikan manfaat melampaui batas ruang dan kelompok.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
QS. Al-Anbiya: 107
Ayat tersebut menegaskan keluasan rahmat risalah Rasulullah ﷺ. Adapun manusia setelah beliau menjalankan tanggung jawabnya sesuai kemampuan masing-masing dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.
Orientasi kepada semesta bukan berarti menghapus akar lokal. Pengabdian yang berakar kuat pada kehidupan nyata dapat menjadi jalan untuk memperluas kemanfaatan bagi manusia dan kehidupan.
Kiprah Murobbi dan Pertumbuhan Generasi
Seorang murobbi tidak hanya menjalankan fungsi menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing manusia agar ilmu memiliki arah, adab, hikmah, dan manfaat.
Dalam proses tersebut terdapat murid yang belajar, generasi yang tumbuh, gagasan yang dikembangkan, nilai yang diteruskan, serta tradisi keilmuan yang terus hidup.
Kiprah seorang ulama mendorong manusia untuk terus belajar, memperbaiki diri, beramal, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dengan demikian, ta'zim terhadap Almukarrom Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA berkhidmad pada keilmuan, pendidikan, dakwah, kepemimpinan, dan pengabdian yang terus berlangsung serta memberi inspirasi bagi generasi.
Ta‘zim yang Berjalan Bersama Amanah
Penghormatan kepada ulama tetap perlu berjalan bersama amanah.
Ta'zim tidak berarti mengultuskan. Keteladanan berjalan bersama ketelitian. Apresiasi berjalan bersama tabayyun.
Penghormatan yang matang adalah penghormatan yang mampu menempatkan seorang tokoh secara proporsional: memuliakan ilmunya, menghargai pengabdiannya, mempelajari pemikirannya, mengambil keteladanannya, serta tetap menjaga kejujuran dalam membaca fakta.

Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh pujian manusia semata. Ukuran kemuliaan pada akhirnya terkait dengan ketakwaan kepada Allah SWT. Penghormatan kepada seorang ulama hendaknya menjadi jalan untuk semakin menghargai ilmu, memperbaiki adab, memperkuat amal, dan memperluas manfaat.
Dari Ilmu Menuju Kemaslahatan, Peradaban, dan Khairul Ummah
seluruh kiprah tersebut terangkum dalam kesinambungan:
Adab melandasi ilmu → ilmu melahirkan hikmah → hikmah membentuk keteladanan → keteladanan menggerakkan pengabdian → pengabdian berakar di Nusantara → pengabdian menghadirkan kemaslahatan → kemaslahatan memberi kontribusi bagi peradaban → peradaban yang dibangun dengan iman, ilmu, adab, amal, keadilan, dan kemaslahatan memperkuat kebaikan umat sebagai khairul ummah.

Ilmu yang dipelajari dengan adab membentuk cara memahami dan menyikapi kehidupan. Pemahaman yang matang melahirkan hikmah. Hikmah diwujudkan dalam akhlak dan tindakan. Ketika ilmu dan hikmah hadir dalam keteladanan, keduanya menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dipelajari, dan diteruskan. Dari keteladanan tumbuh dorongan untuk berkhidmah, mendidik, melayani, dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Pengabdian kemudian berakar pada tempat manusia hidup dan memikul tanggung jawabnya. Dalam konteks ini, Nusantara menjadi ruang pengabdian yang nyata ruang tempat ilmu, akhlak, pendidikan, dakwah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat saling berinteraksi.
Dari akar tersebut, pengabdian diperluas kepada kehidupan yang lebih luas: menjaga kebaikan, mencegah kerusakan, menegakkan amanah, memperkuat persaudaraan, serta menghadirkan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Kemaslahatan dalam perspektif Islam bukan sekadar manfaat pragmatis. Kemaslahatan berjalan bersama kebenaran, keadilan, amanah, akhlak, dan prinsip-prinsip syariat. Sesuatu yang tampak bermanfaat secara duniawi tidak otomatis menjadi maslahat apabila bertentangan dengan tuntunan Allah SWT.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
HR. Muslim, Sahih Muslim, no. 1893.

Semangat memberikan manfaat tersebut berjalan dalam bingkai kebaikan yang diperintahkan syariat. Dengan demikian, pengabdian bukan sekadar menghasilkan manfaat, tetapi menghadirkan kemaslahatan kehidupan melalui ilmu, akhlak, amanah, dan amal yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Kemaslahatan yang dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan kemudian memiliki dimensi yang lebih luas, yaitu peradaban. Peradaban dalam perspektif ini bukan sekadar kemajuan material, teknologi, atau kemegahan institusi. Peradaban mencakup kualitas manusia, ilmu pengetahuan, akhlak, keadilan, pendidikan, tata kehidupan, kepedulian sosial, serta kemampuan menjaga amanah Allah SWT dalam kehidupan.

Dengan demikian, peradaban menjadi ruang kolektif tempat ilmu, hikmah, keteladanan, pengabdian, dan kemaslahatan mengambil bentuk dalam kehidupan masyarakat. Ilmu memberikan arah pengetahuan, hikmah memberikan ketepatan dalam penggunaannya, adab menjaga keluhuran perilaku, pengabdian menghadirkan manfaat, dan kemaslahatan memastikan manfaat tersebut tetap berjalan bersama kebenaran, keadilan, dan tuntunan syariat.
Peradaban yang demikian tidak dibangun melalui satu pribadi semata. Ia tumbuh melalui manusia-manusia yang berilmu dan beradab, keluarga yang menanamkan nilai, lembaga pendidikan yang membentuk generasi, ulama yang membimbing umat, pemimpin yang menjalankan amanah, serta masyarakat yang menjaga kebaikan bersama.
Dalam kerangka tersebut, kiprah seorang murobbi memiliki arti penting: membimbing manusia agar ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi hikmah; hikmah tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi hadir sebagai keteladanan; keteladanan tidak berhenti sebagai contoh, tetapi bergerak menjadi pengabdian; pengabdian tidak berhenti sebagai aktivitas, tetapi menghadirkan kemaslahatan; dan kemaslahatan tidak berhenti pada manfaat sesaat, tetapi turut membangun kehidupan dan peradaban yang lebih baik.
Pada akhirnya, “Murobbi Nusantara untuk Semesta” memperoleh makna yang utuh sebagai ungkapan penghormatan terhadap kiprah keilmuan dan pengabdian yang terus berlangsung: ilmu yang berakar pada adab, tumbuh menjadi hikmah, hadir dalam keteladanan, bergerak melalui khidmah, berakar di Nusantara, diarahkan kepada kemaslahatan, dan memberikan kontribusi bagi peradaban.
Dari Nusantara, ilmu memiliki akar.
Dalam adab, ilmu memiliki arah.
Dalam hikmah, ilmu memiliki kedalaman.
Dalam keteladanan, ilmu hadir dalam kehidupan.
Dalam pengabdian, ilmu menjadi khidmah bagi masyarakat.
Dari khidmah, lahir kemaslahatan.
Dari kemaslahatan yang dijaga dengan iman, ilmu, adab, keadilan, dan amanah, tumbuh kehidupan yang membangun peradaban.

Dari rangkaian itulah tumbuh ikhtiar membentuk umat yang beriman, berilmu, beradab, beramal, menyeru kepada yang makruf, mencegah yang mungkar, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Allah SWT berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
QS. Ali Imran: 110.

Maka, khairul ummah bukan sekadar sebutan, melainkan amanah untuk menjaga iman, menjalankan amar ma‘ruf, mencegah kemungkaran, menegakkan kebaikan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.
Dalam bingkai itulah “Murobbi Nusantara untuk Semesta” menemukan makna yang sejuk, proporsional, dan utuh: adab melandasi ilmu, ilmu melahirkan hikmah, hikmah membentuk keteladanan, keteladanan menggerakkan pengabdian, pengabdian berakar di Nusantara, pengabdian menghadirkan kemaslahatan, kemaslahatan berkontribusi bagi pembangunan peradaban, dan seluruh rangkaian tersebut diarahkan kepada kebaikan umat "khairul ummah".
Wallahua'lam
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Posting Komentar

0 Komentar