بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Rabu, 19 Agustus 2026. Dua mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara, mengikuti Sidang Kolokium sebagai salah satu tahapan penting dalam proses akademik penyelesaian studi.
Keduanya adalah Rizky Octaviani Aulia Hutabarat, NIM 0603212136, alumni SMA Negeri 1 Matauli Tapanuli Tengah, dengan penelitian berjudul “Analisis Tingkat Kepercayaan Masyarakat Kelurahan Sarudik terhadap Pemberitaan Tapanulipost.com”; serta Haura Putri Aqillah, NIM 0603222117, alumni MAN 2 Kota Medan, dengan penelitian berjudul “Ninja Xpress Communication as a Marketing Communication and Information Publication Tool.”
Sidang kolokium tersebut berlangsung dalam suasana akademik yang menempatkan ketajaman berpikir, penguasaan teori, ketepatan metodologi, konsistensi argumentasi, dan integritas ilmiah sebagai bagian utama proses pengujian.
Dalam proses akademik tersebut, Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara, hadir dalam kapasitas akademiknya sebagai bagian dari dewan penguji. Kehadiran beliau menegaskan pentingnya proses kolokium sebagai mekanisme penjagaan mutu dan pematangan penelitian mahasiswa.
Dua Penelitian, Satu Persoalan Fundamental: Kepercayaan terhadap Informasi
Meskipun memiliki objek penelitian yang berbeda, kedua kajian tersebut bertemu pada persoalan penting dalam ilmu komunikasi kontemporer, yakni informasi, komunikasi, dan kepercayaan publik.
Penelitian Rizky mengangkat persoalan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemberitaan. Kajian ini membuka ruang untuk melihat bahwa kepercayaan publik terhadap media tidak semata-mata merupakan persoalan persepsi, tetapi berkaitan dengan kredibilitas sumber, kualitas informasi, proses pembentukan penilaian publik, dan tanggung jawab media dalam menyampaikan informasi.
Sementara itu, penelitian Haura mengkaji Ninja Xpress Communication sebagai sarana komunikasi pemasaran dan publikasi informasi. Kajian tersebut menempatkan komunikasi organisasi dan pemasaran sebagai proses strategis dalam membangun hubungan, menyampaikan informasi, membentuk persepsi, serta menjaga kepercayaan publik.
Keduanya memperlihatkan bahwa komunikasi pada hakikatnya bukan hanya persoalan menyampaikan pesan, tetapi juga menyangkut bagaimana pesan memperoleh makna, dipercaya, diterima, dan memberikan dampak kepada masyarakat.
Wahdatul ‘Ulūm: Mengintegrasikan Pengetahuan
Dalam perspektif Wahdatul ‘Ulūm, ilmu komunikasi tidak berdiri sebagai disiplin yang terpisah dari nilai dan realitas kehidupan. Ilmu dapat diintegrasikan dengan epistemologi, etika, teknologi, sosial, kemanusiaan, dan nilai-nilai keislaman untuk melahirkan pengetahuan yang memiliki kebenaran, kedalaman, dan kemaslahatan.
Karena itu, kolokium bukan hanya menguji apa yang diteliti, tetapi juga mengapa penelitian itu penting, bagaimana kebenarannya dibangun, dan untuk apa pengetahuan tersebut kelak digunakan.
Penelitian yang baik tidak berhenti pada temuan akademik. Ia harus mampu memberikan pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Akhlāqul Karīmah sebagai Fondasi Keilmuan
Integrasi ilmu tersebut harus berjalan bersama Akhlāqul Karīmah.
Dalam ilmu komunikasi, nilai ṣidq (kejujuran), amānah (tanggung jawab), tabayyun (verifikasi), keadilan, dan penghormatan terhadap manusia memiliki relevansi yang sangat kuat.
Informasi dapat membentuk persepsi, keputusan, bahkan kehidupan sosial. Karena itu, orang yang menguasai ilmu komunikasi tidak cukup hanya memiliki kecakapan teknis. Ia juga dituntut memiliki integritas moral dan kesadaran atas dampak komunikasi.
Dengan demikian, ilmu tidak hanya menjadikan seseorang semakin cerdas dalam berpikir, tetapi juga semakin matang dalam bersikap dan bertanggung jawab.
Di Balik Capaian Akademik Ada Ayah, Bunda, dan Keluarga Besar
Perjalanan akademik seorang mahasiswa tidak pernah berlangsung sendirian.
Di balik setiap pencapaian terdapat doa ayah, kasih sayang bunda, dukungan keluarga besar, guru-guru, serta berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan penguatan sepanjang perjalanan pendidikan.
Karena itu, semakin tinggi ilmu yang diperoleh, semakin besar pula tuntutan untuk menghadirkan adab kepada orang tua, penghormatan kepada keluarga, kepedulian kepada masyarakat, dan tanggung jawab dalam kehidupan sosial.
Gelar akademik bukanlah akhir perjalanan. Ia merupakan amanah untuk menggunakan ilmu dengan benar dan bermanfaat.
Meneguhkan Tradisi Akademik
Dalam proses tersebut, dewan penguji memiliki peran penting sebagai penjaga mutu akademik. Pertanyaan, kritik, koreksi, dan penguatan argumentasi merupakan bagian dari mekanisme ilmiah untuk memastikan penelitian memiliki landasan teoritis yang memadai, metodologi yang tepat, argumentasi yang konsisten, serta kontribusi akademik yang jelas.
Sidang kolokium bukan sekadar forum untuk menentukan benar atau salah. Ia merupakan ruang untuk mematangkan calon sarjana agar mampu berpikir ilmiah, bekerja metodologis, menjunjung integritas akademik, dan mengembangkan ilmu dengan Akhlāqul Karīmah.
Dalam tradisi akademik yang sehat, kritik bukanlah bentuk pelemahan terhadap mahasiswa. Kritik merupakan instrumen untuk memperkuat karya ilmiah dan membentuk kedewasaan intelektual.
Dari Pendidikan Menuju Pengabdian
Perjalanan Rizky dari SMA Negeri 1 Matauli Tapanuli Tengah dan Haura dari MAN 2 Kota Medan, kemudian berlanjut di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara, menjadi bagian dari perjalanan pendidikan yang lebih luas.
Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar perpindahan dari satu jenjang menuju jenjang berikutnya. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan peradaban.
Di sinilah Wahdatul ‘Ulūm menemukan relevansinya: ilmu tidak cukup dikumpulkan sebagai pengetahuan, tetapi harus diintegrasikan, dihayati, dan diwujudkan dalam amal yang bermanfaat.
Ilāhī Anta Maqṣūdī wa Riḍāka Maṭlūbī
Pada akhirnya, seluruh perjalanan akademik dapat diarahkan kepada orientasi pengabdian yang lebih tinggi:
Ilāhī anta maqṣūdī wa riḍāka maṭlūbī.
Ya Allah, Engkaulah tujuanku dan keridaan-Mu yang kucari.
Spirit tersebut menjadi pengingat bahwa pencarian ilmu bukan sekadar mengejar gelar, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjadi manusia yang lebih baik dan memberikan manfaat.
Semoga ilmu yang diperoleh Rizky Octaviani Aulia Hutabarat dan Haura Putri Aqillah menjadi kebanggaan bagi ayah dan bunda, kebahagiaan bagi keluarga besar, manfaat bagi masyarakat, dan bekal pengabdian bagi kehidupan yang lebih luas.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم



0 Komentar