بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØْÙ…َÙ†ِ الرَّØِÙŠْÙ…ِ
Medan – Penguatan kesiapsiagaan masyarakat desa dalam menghadapi berbagai risiko bencana merupakan langkah yang perlu terus didukung melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat.
Hal tersebut menjadi perhatian Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumatera Utara, setelah mencermati dorongan Wamendes PDT Bapak Ahmad Riza Patria mengenai pentingnya memperkuat kesiapsiagaan desa dengan mempelajari pengalaman dan praktik baik dari Jepang.
Berdasarkan pemberitaan InfoPublik yang dipublikasikan pada 10 Agustus 2026, Wamendes PDT Bapak Ahmad Riza Patria menyampaikan pentingnya penguatan kesiapsiagaan masyarakat desa dalam menghadapi beragam risiko bencana.
Gagasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Kolaborasi dan Dukungan ICMI DKI Jakarta untuk Jakarta dan Indonesia bertema “Masyarakat Siap Belajar dari Jepang untuk Kesiapsiagaan Indonesia” di Operational Room Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Jakarta.
Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa kondisi geografis Indonesia menyebabkan desa menghadapi jenis risiko bencana yang beragam. Desa pesisir memiliki potensi ancaman tsunami dan gelombang pasang, kawasan pegunungan menghadapi antara lain risiko erupsi dan longsor, sementara desa di sekitar aliran sungai berhadapan dengan ancaman banjir dan longsor.
Risiko juga terdapat di kawasan hutan dan lahan gambut yang rentan terhadap kebakaran, serta wilayah kering yang menghadapi kekeringan dan keterbatasan air bersih. Sejumlah wilayah juga berada di kawasan patahan aktif yang memiliki potensi gempa bumi.
Karena itu, pembangunan desa tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik dan penguatan ekonomi. Pengetahuan masyarakat, kesiapan menghadapi risiko, tata kelola, pemanfaatan teknologi, serta gotong royong merupakan unsur yang turut menentukan ketangguhan masyarakat desa.
Pengalaman Jepang dalam menghadapi bencana dapat menjadi bahan pembelajaran. Namun, pembelajaran tersebut perlu disesuaikan dengan karakter geografis, sosial, budaya, kelembagaan, serta kearifan lokal Indonesia.
Akademisi Dorong Mahasiswa Tanggap Bencana
Menanggapi hal tersebut, Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara, terus mendorong mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap situasi kebencanaan dan kepedulian terhadap masyarakat.
Menurut keterangan yang disampaikan, mahasiswa tidak cukup hanya memahami persoalan kebencanaan melalui pengetahuan akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki kepedulian sosial dan kesiapan untuk mengambil bagian secara positif sesuai kapasitasnya ketika masyarakat menghadapi bencana.
Tuan M. Yoserizal Saragih juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa FIS UIN Sumatera Utara yang, berdasarkan pengamatannya, menunjukkan kepedulian terhadap situasi kebencanaan, baik secara mandiri maupun secara kolegial.
Keterlibatan tersebut terlihat dalam semangat gotong royong dan kepedulian terhadap masyarakat ketika menghadapi situasi bencana. Bagi lingkungan pendidikan tinggi, kepedulian semacam itu merupakan bagian penting dari pembentukan karakter mahasiswa.
Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi insan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diharapkan memiliki tanggung jawab sosial, kepedulian kemanusiaan, solidaritas, dan kesediaan untuk hadir bersama masyarakat.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Sosial
Semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan sosial yang penting dalam menghadapi bencana.
Mahasiswa dapat mengambil peran sesuai kemampuan dan kapasitasnya, antara lain melalui edukasi, literasi kebencanaan, pengabdian kepada masyarakat, kepedulian lingkungan, dukungan kemanusiaan, serta penguatan informasi yang bertanggung jawab.
Namun, keterlibatan tersebut tetap perlu dilakukan secara tertib, aman, terkoordinasi, dan memperhatikan kebutuhan masyarakat serta arahan pihak yang berwenang dalam penanganan bencana.
Kepedulian terhadap bencana juga tidak seharusnya hanya muncul setelah bencana terjadi. Kesadaran mengenai risiko, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun sebelum keadaan darurat terjadi.
Terus Membersamai Masyarakat Desa
Semangat yang disampaikan Wamendes PDT Bapak Ahmad Riza Patria mengenai pentingnya kolaborasi dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat memiliki relevansi dengan peran perguruan tinggi dan mahasiswa.
Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan tata kelola. Perguruan tinggi memiliki kekuatan pengetahuan, pendidikan, dan riset. Organisasi masyarakat, dunia usaha, media, komunitas, relawan, serta masyarakat memiliki kapasitas masing-masing yang dapat dipadukan untuk memperkuat ketangguhan desa.
Dalam konteks tersebut, masyarakat desa perlu terus membersamai ikhtiar penguatan kesiapsiagaan bencana.
Membersamai berarti tidak hanya hadir ketika bencana telah terjadi, tetapi juga ikut membangun kesadaran, menjaga lingkungan, memperkuat solidaritas, meningkatkan pengetahuan, serta mendukung berbagai upaya kesiapsiagaan sesuai kemampuan masing-masing.
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan “Sahabat Desa” yang disampaikan Wamendes PDT Bapak Ahmad Riza Patria, yakni mendorong berbagai kalangan untuk hadir bersama desa melalui berbagi ilmu, pengalaman, teknologi, dan kepedulian.
Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa dapat menjadi bagian dari semangat tersebut melalui pengabdian, kepedulian sosial, dan gotong royong.
Apresiasi terhadap mahasiswa FIS UIN Sumatera Utara diharapkan menjadi dorongan agar kepedulian yang telah tumbuh terus dipelihara dan dikembangkan secara positif.
Desa yang tangguh tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang kuat, tetapi juga masyarakat yang memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, kepedulian, dan solidaritas.
Karena itu, mari terus membersamai masyarakat desa dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana.
Belajar dari pengalaman berbagai negara, termasuk Jepang, bukan berarti kehilangan jati diri Indonesia.
Pembelajaran tersebut justru dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan yang sesuai dengan karakter, kebutuhan, dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.
Dari desa, dari kampus, dan dari masyarakat, semangat gotong royong dapat terus diperkuat untuk membangun Indonesia yang semakin tangguh menghadapi risiko bencana.
صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙ‰ Ù…ُØَÙ…َّد صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…

0 Komentar