بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØْÙ…َÙ†ِ الرَّØِيمِ
Suasana Akademik Menghangat, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Jalani Sidang Kolokium
Pesan untuk Adik Adik SLTA: Persiapkan Diri Melanjutkan Kuliah ke Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara
Medan, 6 Agustus 2026 — Suasana akademik terasa hidup di Seminar Class Room FIS UINSU Tuntungan, Kamis (6/8/2026). Pagi hingga menjelang siang, ruang akademik itu menjadi tempat berlangsungnya Sidang Kolokium Sarjana Program Studi Ilmu Komunikasi, pukul 08.00–12.00 WIB.
Ada suasana khas dalam sebuah sidang akademik. Mahasiswa datang dengan persiapan masing masing, membawa hasil pembelajaran selama menempuh pendidikan, kemudian mempresentasikan rancangan penelitian yang telah disusun untuk mendapatkan evaluasi akademik.
Dalam pelaksanaan tersebut, Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom. (Wadek III FIS UIN SUMUT) menjalankan peran sebagai penguji.
Dua mahasiswa membawa penelitian dengan tema jurnalistik dari sudut yang berbeda.
Muhammad Habib Pasya (NIM 0603221042) mengangkat judul “Jurnalistik Profetik Kontemporer: Perspektif Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)”.
Sementara Ahmad Fadil Hsb (NIM 0603223162) mengangkat judul “Transformasi Praktik Jurnalistik Mahasiswa UINSU di Era Artificial Intelligence Menuju Indonesia Emas 2045.”
Kedua penelitian tersebut memperlihatkan perhatian mahasiswa terhadap perkembangan jurnalistik dari dua sisi. Salah satunya mengaitkan jurnalistik dengan pendidikan dan nilai, sementara lainnya melihat perubahan praktik jurnalistik di tengah perkembangan Artificial Intelligence.
Dalam ruang kajian Ilmu Komunikasi yang lebih luas, Jahirun Manik (NIM 0603223123) juga turut hadir dengan perhatian pada tema pariwisata. Ia mengangkat judul “Strategi Komunikasi Pemasaran Pariwisata di Pantai Gosong Telaga Aceh Singkil sebagai Destinasi Wisata Unggulan.”
Kehadiran tema tersebut memperlihatkan luasnya ruang kajian Ilmu Komunikasi. Komunikasi tidak hanya berbicara tentang media dan jurnalistik, tetapi juga dapat hadir dalam upaya memperkenalkan potensi daerah, membangun daya tarik destinasi wisata, serta membaca hubungan antara komunikasi, masyarakat, kebudayaan, dan lingkungan.
Dari sini, pembahasan komunikasi terasa semakin dekat dengan kehidupan. Ada informasi yang perlu disampaikan dengan benar, ada teknologi yang perlu digunakan secara bijak, ada potensi daerah yang perlu dikomunikasikan secara bertanggung jawab, dan ada lingkungan yang perlu dijaga sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan.
Dari suasana seperti itulah kesadaran Wahdatul Ulum menemukan relevansinya. Ilmu tidak berjalan sendiri sendiri. Komunikasi dapat bertemu dengan pendidikan, teknologi, sosial, budaya, pariwisata, lingkungan, bahkan nilai nilai kehidupan.
Kesadaran itu kemudian berjalan bersama esensi wasathiyah, yaitu kemampuan melihat persoalan secara proporsional, tidak berlebihan, tidak mengabaikan prinsip, tetapi juga tidak menutup diri terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, wasathiyah dapat tumbuh melalui kebiasaan berpikir kritis sekaligus menghargai adab, terbuka terhadap teknologi sekaligus memahami batas tanggung jawab, mampu menyampaikan pendapat sekaligus bersedia mendengarkan.
Di titik yang lain, ilmu juga perlu membawa kesadaran ecoteologi. Hubungan manusia dengan lingkungan bukan sekadar persoalan pemanfaatan, tetapi juga amanah untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Dalam komunikasi, kesadaran lingkungan menjadi penting karena media dan pesan dapat membentuk cara masyarakat memandang alam, pariwisata, pembangunan, dan masa depan. Komunikasi dapat ikut menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan.
Kesadaran tersebut kemudian bertemu dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan wawasan Panca Cinta. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membuat seseorang memiliki pengetahuan, tetapi juga untuk menumbuhkan karakter dan kepedulian terhadap sesama, lingkungan, ilmu, dan tanah air.
Panca Cinta dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul Nya, cinta kepada ilmu, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada tanah air.
Semangat membangun pendidikan berbasis nilai cinta tersebut juga menjadi bagian dari perhatian Menteri Agama Republik Indonesia, Al Mukarram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., yang juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal.
Dalam kehidupan mahasiswa, nilai itu bukan sekadar konsep. Ia dapat hadir dalam cara belajar, cara menggunakan teknologi, cara berkomunikasi, cara menghargai dosen dan teman, cara menjaga lingkungan, serta cara memperlakukan keluarga.
Dan pada akhirnya, ilmu selalu kembali kepada manusia.
Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom. (Wadek III FIS UIN SUMUT) menyampaikan ucapan selamat atas selesainya Sidang Kolokium kepada para mahasiswa. Bersamaan dengan itu, disampaikan pula “salam hormat” kepada ayah dan bunda mereka semua.
Ada makna yang sederhana tetapi dalam dari pesan tersebut.
Di balik seorang mahasiswa yang menyelesaikan satu tahapan pendidikan, ada ayah dan bunda yang sejak awal membersamai perjalanan mereka. Ada doa, perhatian, pengorbanan, dan harapan yang terus menyertai.
Maka, menyelesaikan satu tahapan akademik bukan hanya tentang diri sendiri. Ada kebahagiaan yang juga kembali kepada keluarga.
Dan kepada adik adik yang masih duduk di bangku SLTA, pesan itu kiranya juga menjadi sebuah ajakan.
Jika memiliki minat pada komunikasi, jurnalistik, media, teknologi, pariwisata, atau berbagai persoalan sosial, persiapkan diri sejak sekarang. Rajin membaca. Belajar menulis. Berani berdiskusi. Kenali bakat. Gunakan teknologi dengan bijak. Dan jangan takut untuk bermimpi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara, khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi, dapat menjadi salah satu ruang untuk membina bakat tersebut menjadi ilmu dan kompetensi.
Tetapi jangan lupa, perjalanan pendidikan juga membutuhkan doa.
Selalu berdoa dalam setiap langkah. Membersamai ayah dan bunda dengan perbuatan ihsan. Menyayangi kakak dan adik. Menjaga hubungan dengan keluarga, saudara, dan tetangga. Karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai gelar, tetapi juga tentang seberapa baik ilmu itu membentuk dirinya.
Dari sinilah pendidikan dapat melahirkan generasi yang cendekia dalam berpikir, religius dalam nilai, dan nasionalis dalam pengabdian.
Generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan. Mampu mengembangkan ilmu tanpa kehilangan nilai. Mampu mencintai tanah air tanpa mengabaikan lingkungan. Dan mampu membawa nama baik keluarga melalui ilmu, akhlak, serta karya yang bermanfaat.
Pada akhirnya, suasana kolokium hari itu bukan hanya tentang beberapa judul penelitian. Ia menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, dari proses belajar menuju penelitian, dari penelitian menuju pengembangan ilmu, dan dari ilmu menuju pengabdian.
Wahdatul Ulum, Wasathiyah, ecoteologi, serta Kurikulum Berbasis Cinta dan Panca Cinta dapat menjadi rangkaian kesadaran yang saling menguatkan, ilmu yang terhubung, sikap yang seimbang, kepedulian terhadap lingkungan, dan cinta yang diwujudkan dalam kehidupan.
Dari ruang ruang akademik seperti inilah perguruan tinggi terus mengambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa, membina generasi muda, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat serta negara.
Semoga segala harapan, cita cita, dan doa kita semua diijabah Allah SWT.
Semoga langkah para mahasiswa terus dimudahkan, ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang bermanfaat, cita cita mereka menemukan jalan terbaik, dan doa ayah bunda mereka menjadi keberkahan yang menyertai setiap perjalanan.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.
صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙ‰ Ù…ُØَÙ…َّد صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…




0 Komentar