Header Ads Widget


 

​“Jemput Pituah” : Komisaris Mahasiswa Abanganda Gilang Sadewa Alfatan dan Abanganda Sairuz Zaki Ikhwana Temui Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara, Perkuat Tradisi Akademik Berbasis Adab

​بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Medan, Selasa, 3 November 2026 — Gilang Sadewa Alfatan, Komisaris Mahasiswa (Kosma) Ruang I Semester V, dan Sairuz Zaki Ikhwana, Kosma Ruang II Semester V, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, bersilaturahmi dengan Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara, di ruang Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara melalui kegiatan bertajuk “Jemput Pituah”.

​Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog keilmuan mengenai Filsafat Islam, Filsafat Komunikasi, dan pentingnya nilai dalam kehidupan akademik serta praktik komunikasi.

​Dalam kesempatan itu, keduanya juga menyampaikan rencana kunjungan mahasiswa ke DetikSumut, Harian Waspada, dan Kantor Berita ANTARA. Kunjungan ke sejumlah kantor media tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Mata Kuliah Produksi Berita Jurnalistik.

​Dalam dialog tersebut, Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom. memberikan perspektif mengenai hubungan Filsafat Islam dengan pembentukan perilaku komunikasi dan pembangunan peradaban. Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom. menegaskan bahwa pemikiran filosofis tidak berhenti pada argumentasi teoretis, tetapi hadir dalam realitas sosial dan memberikan dampak bagi kehidupan.

​“Filsafat komunikasi tentunya rentan bila tidak memiliki nilai. Dalam konteks religius, kehadiran Filsafat Islam menjadi indikator penting,” tutur Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom.

​Lebih lanjut, Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom. menjelaskan bahwa filsafat tidak semestinya berhenti sebagai diskursus abstrak. Filsafat Islam mengkaji landasan pemikiran dan nilai-nilai keislaman yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan peradaban sebenarnya. Pemahaman tersebut teraktualisasi dalam perilaku, tanggung jawab, dan kontribusi nyata bagi kemaslahatan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Dr. Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., komunikasi dapat menjadi jembatan untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sosial dan mendukung terbentuknya masyarakat madani.

​Hal tersebut memberikan penegasan bahwa Filsafat Islam memiliki hubungan erat dengan pembentukan sikap, kebijaksanaan, dan tanggung jawab peradaban. Argumentasi keilmuan tidak hanya berkaitan dengan ketepatan penalaran, tetapi juga memiliki hubungan dengan nilai, perilaku, dan kemanfaatan bagi sesama.

​Filsafat Islam dipahami dalam perspektif keilmuan Islam yang berlandaskan Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah. Dalam perspektif ini, petunjuk naqli yang bersumber dari Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah  menjadi landasan utama dalam memahami ajaran Islam. Sementara itu, pendekatan aqli merupakan sarana penalaran untuk memahami, mengkaji, dan mengambil pelajaran dari petunjuk tersebut, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip syariat.

​Penggunaan akal dan pengembangan penalaran merupakan bagian dari ikhtiar keilmuan untuk memahami serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Dengan demikian, hubungan antara pendekatan aqli dan petunjuk naqli bukanlah pertentangan, melainkan hubungan yang saling melengkapi sesuai kedudukannya. Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah tetap menjadi sumber utama ajaran Islam, sedangkan akal berperan dalam memahami, mengkaji, menggali hikmah, dan mengupayakan penerapan petunjuk tersebut dalam kehidupan.

​Inilah bentuk nyata bahwa ilmu tidak hanya dinilai berdasarkan keluasan pengetahuan dan kemampuan membangun argumentasi, tetapi juga melalui kesungguhan mengamalkan serta mempertanggungjawabkannya. Ilmu yang memberikan manfaat, disertai keluhuran akhlak, menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang matang secara intelektual dan moral.

​Rangkaian pembahasan tersebut memiliki keterkaitan dengan perspektif Wahdatul ‘Ulum, yang memandang ilmu pengetahuan sebagai satu kesatuan yang memiliki hubungan dalam aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Meskipun setiap disiplin ilmu memiliki objek kajian, karakter, dan metodologi tersendiri, pengembangannya tetap dapat saling terhubung dan melengkapi. Dalam hubungan ini, Filsafat Islam memberikan landasan nilai dan pertimbangan etis, sedangkan Ilmu Komunikasi mengkaji proses penyampaian pesan, hubungan antarmanusia, penggunaan media, serta dampaknya dalam kehidupan sosial. Keterhubungan kedua bidang tersebut dapat memperkaya kajian dan praktik komunikasi, antara lain melalui perhatian terhadap kebenaran informasi, kesantunan dalam menyampaikan pesan, tanggung jawab terhadap khalayak, serta kemaslahatan bersama. Dengan demikian, perspektif Wahdatul ‘Ulum memberi ruang bagi pengembangan Ilmu Komunikasi yang tetap memperhatikan karakter keilmuannya sekaligus memiliki keterhubungan dengan nilai-nilai keislaman dan tanggung jawab kemanusiaan.

​Tradisi silaturahmi dan pertukaran pemikiran seperti “Jemput Pituah” memiliki arti penting dalam kehidupan pendidikan tinggi. Kampus bukan hanya tempat mengembangkan kemampuan intelektual, melainkan juga ruang pembentukan karakter, kematangan berpikir, dan tanggung jawab moral.

​Pada akhirnya, ilmu menemukan maknanya ketika menjadi realitas kontributif bagi kemaslahatan sesama. Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita khairu ummah, yakni umat terbaik yang menghadirkan kebaikan bagi kehidupan bersama, serta nilai wasathiyah (moderasi).

​Keterkaitan nilai tersebut dengan kehidupan masyarakat juga dapat dilihat dalam pandangan Menteri Agama Republik Indonesia, Almukarrom Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Imam Besar Masjid Istiqlal, mengenai penguatan kerukunan dan pemaknaan toleransi beragama. Dalam unggahan di laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Menteri Agama mengajak para tokoh lintas agama untuk memperkuat kerukunan serta mengarahkan pemaknaan toleransi pada penguatan dan pencarian persamaan antarumat. Upaya tersebut dipandang penting untuk menjaga stabilitas nasional dan memperkuat diplomasi religius Indonesia yang berbasis hati nurani di tengah situasi global.

​Dalam unggahan laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia tersebut, Menteri Agama RI juga menyampaikan pandangannya mengenai pemaknaan toleransi:

​“Kalau toleransi itu, kesannya, image-nya, kita seolah-olah ada unsur dipaksa untuk memberikan suatu pengakuan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Sebetulnya, kalau kita mau jujur, wilayah toleransi semacam itu bisa diperkecil. Apa yang selama ini kita anggap berbeda, sesungguhnya jangan-jangan tidak berbeda, hanya persepsi kita yang terlalu membedakannya satu sama lain,” ujar Menteri Agama.

​(Sumber: Laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, 2 November 2026.)


Firman Allah SWT dalam Alquranul Karim : 


​ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمْ أُولُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ


Artinya :

"(Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Merekalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat (Ulul Albab)."

(QS. Az-Zumar: 18)

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Posting Komentar

0 Komentar