Oleh: Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom, Wakil Dekan III FIS UIN Sumut
(Refleksi Kunjungan Menteri Agama RI ke Kampus UIN Sumatera Utara membuka secara resmi Seminar dan Konferensi Internasional Dunia Melayu-Islam, Senin 24/11/2025)
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Segala puji bagi Allah SWT, sumber kasih sayang semesta, yang menuntun umat manusia untuk menegakkan keadilan, kearifan, dan penghormatan terhadap martabat setiap jiwa. Dalam kesadaran Ilahiah bahwa manusia diciptakan sebagai penjaga kehidupan, diplomasi harus menjadi jembatan kasih sayang, cahaya yang menenangkan, serta ruang yang menyatukan. Dari nilai-nilai abadi inilah lahir arsitektur yang membingkai diplomasi kasih sayang untuk Palestina dalam konteks kemanusiaan universal. Shalawat dan salam kepada junjungan Rasulullah ﷺ. Pendekatan ini hadir secara menyejukkan bil-hikmah, berlandaskan falsafah Pancasila dan keyakinan penuh terhadap rahmat Allah SWT, sebagai kontribusi nyata bagi perdamaian global sekaligus upaya mengakhiri penderitaan rakyat Palestina.
Diplomasi kasih sayang menawarkan fondasi baru yang menyatukan nilai moral universal dengan langkah kerja yang konkret dan terukur. Pendekatan ini menempatkan martabat manusia sebagai pusat setiap kebijakan, menghormati kedaulatan Palestina, serta menolak segala bentuk kekerasan, dehumanisasi, dan ketidakadilan. Diplomasi yang lahir dari kasih sayang bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral yang membangun solidaritas global. Pendekatan ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah prinsip strategis yang menuntut tindakan terarah, bijaksana, dan bersinergi dengan kedalaman spiritual.
Salah satu elemen inti dari pendekatan ini adalah Model Integrasi Terbatas, Sukarela, dan Temporer, yaitu kerangka kerja kolaboratif yang memungkinkan Palestina menerima dukungan komunitas global dan organisasi internasional dalam pemulihan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan tanpa mengganggu kedaulatan politiknya. Model ini menciptakan ruang koordinasi internasional yang aman, fleksibel, dan terstruktur, menjadi kanal stabilisasi wilayah tanpa memicu ketegangan baru. Integrasi terbatas menegaskan bahwa bantuan bukan intervensi, solidaritas bukan dominasi, dan kerja sama bukan pengikisan kewenangan nasional. Seluruh elemen selaras dengan hukum internasional, etika global, dan prinsip kemuliaan manusia.
Untuk memperkuat struktur ini, kontribusi Indonesia melalui Pasukan Perdamaian PBB menjadi langkah kerja yang monumental dan bermakna. Pasukan perdamaian bukan instrumen militer semata, melainkan simbol komitmen global dalam menjamin keselamatan warga sipil, memfasilitasi akses kemanusiaan, dan menjaga stabilitas selama dialog berlangsung. Kontribusi ini menyejukkan bil-hikmah, berakar pada nilai Pancasila dan keyakinan terhadap rahmat Allah SWT, sehingga kehadiran mereka bukan sebagai aktor politik, melainkan pelindung kemanusiaan. Hal ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap Palestina harus diwujudkan melalui aksi nyata yang selaras dengan nilai kemanusiaan universal.
Diplomasi kasih sayang juga menuntut transparansi komunikasi antarnegara, penguatan mekanisme pemantauan kemanusiaan internasional, serta penciptaan jalur komunikasi multilevel yang melibatkan pemimpin negara, pemuka agama, akademisi, dan lembaga multilateral. Transparansi ini membangun kepercayaan, meminimalkan kesalahpahaman, dan memperkuat fondasi dialog jangka panjang. Kepercayaan adalah ruh pondasi perdamaian. Dengan kepercayaan yang ditopang oleh kasih sayang dan bil-hikmah, diplomasi dapat menjadi ruang pertumbuhan, pemulihan, dan perlindungan bagi kemanusiaan Palestina.
Pendekatan ini menegaskan bahwa diplomasi kasih sayang tidak hanya relevan untuk Palestina, tetapi juga dapat menjadi cetak biru global bagi penyelesaian konflik kemanusiaan lainnya. Strategi yang memadukan nilai moral, kejelasan hukum, dan langkah kerja menawarkan model baru bagi stabilisasi wilayah, rekonsiliasi pasca-krisis, dan pembangunan kemitraan jangka panjang. Diplomasi berbasis kasih sayang menjadi kontribusi terhadap hukum moral global, memperkuat legitimasi internasional, serta selaras dengan prinsip akal, etika, dan kemanusiaan universal.
Kesadaran spiritual menjadi ruh keseluruhan arsitektur diplomasi ini. Kasih sayang adalah ibadah, dan diplomasi adalah amanah menjaga kehidupan. Ketika diplomasi diarahkan oleh nilai Ilahiah, setiap langkah menjadi ladang kebaikan; setiap kebijakan memuliakan martabat manusia; dan setiap strategi menjadi jembatan yang mendekatkan umat manusia kepada perdamaian hakiki. Semua komponen model integrasi terbatas, pasukan perdamaian PBB, dan strategi komunikasi internasional bersatu dalam nilai kasih sayang yang nyata menggetarkan hati, menguatkan akal, dan menyadarkan intelektual sebagai refleksi spiritual sekaligus rasional.
Dari keseluruhan bangunan ini, diplomasi kasih sayang tampil sebagai kekuatan yang mempersatukan, membangun, dan menyejukkan. Pendekatan ini melahirkan legitimasi global yang kokoh dan langkah-langkah yang diterima beragam pihak. Diplomasi kasih sayang untuk Palestina menjadi kontribusi nyata bagi tatanan global baru yang adil, damai, dan bermartabat, serta peduli terhadap penderitaan manusia, sekaligus menyinari dunia dengan bil-hikmah dan kesadaran spiritual yang mendalam.
Doa Penutup
Yā Rabbana, Yā Arhamar Rahimin, Yā ‘Alīmal-Ghaib
Limpahkanlah tiupan karunia-Mu ke seluruh penjuru bumi. Hiasilah hati kami dengan kasih sayang, dan tuntunlah setiap langkah kami dalam harmoni, rahmat, dan hikmah.
Lindungilah kami, orang tua kami, serta para pemimpin negeri kami secara khusus Presiden Republik Indonesia Almukarrom Bapak H. Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Republik Indonesia, serta Tuan Guru kami, Kyai kami, Imam Besar Masjid Istiqlal, Menteri Agama Republik Indonesia Almukarrom Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, agar senantiasa Engkau bimbing memimpin dengan limpahan fadilah, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam membangun peradaban dalam keridhoan ... bagi seluruh umat manusia.
Āamīin
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
Maka mereka berjumpa dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan dari sisi Kami ilmu. (QS. Al-Kahf: 65)
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 Komentar