Header Ads Widget


 

Pendidikan Transformatif Berbasis Filsafat Islam dan Jurnalistik Profetik: Model Integratif Pengembangan Berpikir Kritis pada Pendidikan Tinggi Islam


Ket foto :
Tuan M Yoserizal Saragih dan Kyai H Abdul Malik Usman 

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِÙŠْÙ…ِ
Oleh : Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom ( Wakil Dekan III FIS UIN Sumut )

Pendidikan tinggi Islam menuntut lebih dari sekadar penguasaan pengetahuan; ia memanggil mahasiswa menapaki perjalanan pemikiran yang menyeimbangkan kecerdasan akal dan kedalaman hati. Belajar bukan hanya menumpuk informasi, tetapi menyelami hakikat ilmu melalui refleksi batin, pengendalian ego, dan penyerapan nilai-nilai etis yang membentuk karakter peradaban. Filsafat pendidikan Islam dan tasawuf bertemu untuk menuntun manusia berpikir kritis tanpa kehilangan kesucian jiwa. Pikiran yang jernih lahir dari hati yang bersih, dan hati yang teguh menuntun akal menilai dengan keadilan dan kebijaksanaan. Dalam ruang ini, mahasiswa dilatih tidak hanya bertanya dan menimbang, tetapi membimbing diri menuju kematangan spiritual dan intelektual yang menjadi fondasi peradaban unggul.

Tasawuf membuka jalan membebaskan diri dari belenggu nafsu dan ilusi kekuasaan duniawi, menghadirkan ketenangan batin yang memungkinkan akal bekerja adil dan bijaksana. Mahasiswa belajar melihat dunia dengan mata nurani, memahami fenomena hukum, sosial, dan budaya tanpa tergesa menilai, namun dengan ketelitian dan empati. Jurnalistik profetik memperkaya pengalaman ini, menegaskan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan amanah dan kesantunan, sehingga komunikasi bukan sekadar transfer informasi, tetapi pembimbing moral yang menumbuhkan tanggung jawab sosial dalam membangun peradaban yang beretika dan rahmatan lil alamin.

Pada pendidikan tinggi Islam, ketiga prinsip ini dirajut menjadi model pembelajaran yang menyeluruh. Diskusi filsafat menajamkan analisis, refleksi batin menguatkan kedalaman spiritual, dan praktik jurnalistik profetik melatih kejujuran serta integritas komunikasi. Mahasiswa diajak menulis, berdialog, dan mempresentasikan gagasan dengan adab yang mulia, menghormati guru, orangtua, ulama, dan umaro, menumbuhkan kesadaran akan prinsip wasathiyah dan moderasi beragama. Mereka belajar menjaga keseimbangan antara ketegasan prinsip dan kelembutan kasih sayang, membangun pemahaman inklusif yang selaras dengan rahmatan lil alamin, sekaligus menyiapkan generasi penerus yang mampu berkontribusi pada peradaban global.

Kurikulum yang terintegrasi mengajak mahasiswa membaca teks wahyu dan literatur klasik dengan kesungguhan, memaknai setiap kata sebagai sarana refleksi, serta menghubungkannya dengan realitas sosial kontemporer. Praktik studi kasus etika, pelatihan kesadaran diri, dialog interdisipliner, dan simulasi pengambilan keputusan membentuk insan ulil albab—cendekiawan yang berpikir kritis, bertindak bijak, dan bersikap lembut terhadap sesama. Pendidikan tinggi Islam menjadi laboratorium spiritual, di mana kecerdasan berpikir dan kejernihan hati bertemu dalam harmoni, menyiapkan generasi yang mampu menavigasi kompleksitas dunia dengan integritas, keanggunan, dan kontribusi nyata pada peradaban.

Pendekatan ini meneguhkan prinsip wasathiyah sebagai pijakan interaksi sosial dan keagamaan. Mahasiswa belajar memahami keberagaman dengan penuh hormat, menegakkan keadilan, dan menjaga keseimbangan antara kebebasan berpikir dan tanggung jawab moral. Mereka tumbuh sebagai manusia yang mampu meresapi nilai etika Pancasila, menegakkan keadilan sosial, membangun kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat, dan menjadi agen penguat peradaban beretika, sehingga pendidikan tinggi Islam tidak hanya menghasilkan intelektual cerdas, tetapi insan berakhlak mulia yang siap menjadi pelayan umat rahmatan lil alamin.

Dengan cara ini, pendidikan tinggi Islam menapaki jalan transformatif yang membentuk kecerdasan analitis sekaligus kesadaran spiritual mendalam. Mahasiswa menjadi pribadi yang mampu menyeimbangkan logika dan nurani, mengintegrasikan ilmu dan adab, serta membawa cahaya kebijaksanaan ke masyarakat. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pembentukan karakter dan jiwa utuh, selaras dengan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, mewujudkan visi Indonesia Gold 2045, dan menyiapkan generasi yang menjadi pelita bagi negeri, dunia, dan peradaban manusia.

صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙ‰ Ù…ُØ­َÙ…َّد صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…

Posting Komentar

0 Komentar