بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Oleh: Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom - Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara
Indonesia dalam konstelasi geofisika merupakan sebuah mahakarya geosistem kepulauan yang mengintegrasikan domain pesisir, daratan tengah, dan pegunungan dalam satu ekuilibrium dinamis yang absolut. Aktivitas antropogenik destruktif, khususnya ekstraksi sedimen masif di wilayah pesisir, bukan sekadar degradasi lokalitas bibir pantai, melainkan sebuah disrupsi terhadap arsitektur teologis bumi. Tindakan ini mereduksi sedimen alami yang sejatinya berperan sebagai penyangga struktural atau geological buttress bagi stabilitas lereng di elevasi tinggi.
Secara mekanika fluida dan geomorfologi, eksploitasi sedimen yang nir kendali memicu defisit massa di hilir yang mengakibatkan degradasi basis level sungai. Fenomena ini secara otomatis meningkatkan energi kinetik aliran air yang memicu erosi vertikal progresif ke arah hulu. Pelemahan fondasi pada kaki kaki bukit ini menyebabkan redistribusi tegangan tanah yang berujung pada deformasi daratan, retakan permukaan, hingga katastrofe gerakan massa tanah di wilayah pegunungan.
Argumentasi terminologi "Abrasi Pegunungan" dalam diskursus Jurnalistik Ekoteologi ini merupakan proposisi intelektual untuk mengonstruksi pemahaman bahwa pengikisan integritas pegunungan adalah respons sistemik atas hilangnya massa di pesisir. Secara saintifik dan teologis, hal ini membuktikan bahwa pulau adalah satu kesatuan tubuh yang organik; saat kaki pulau terabrasi oleh ambisi eksploitasi, maka puncak gunung akan mengalami pengikisan keseimbangan. Pengelolaan sedimen yang logis merupakan pengejawantahan amanah khalifatullah fil ardh dalam menjaga presisi qadar ciptaan Khalik dalam bingkai rahmatan lil alamin.
QS. Al-Qamar [54]: 49
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
"Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ukuran (qadar)."
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 Komentar