بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Oleh: Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom
(Pengamat Jurnalisme Profetik dan Ketahanan Nasional)
Urgensi kedaulatan kontemporer terletak pada integrasi dimensi teritorial fisik dan ruang kognitif di media digital. Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kedaulatan di wilayah terdepan Nusantara mencakup penjagaan batas-batas tanah-air secara konvensional sekaligus penguatan strategi pertahanan nir-militer dalam menghadapi sirkulasi informasi digital yang dinamis. Upaya ini selaras dengan arah besar Asta Cita visi Presiden Republik Indonesia, Bapak H. Prabowo Subianto, khususnya dalam terus memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia, serta memantapkan sistem pertahanan keamanan negara yang mandiri dan berdaulat.
Di titik strategis seperti Pulau Rondo, Berhala, Natuna, Miangas, Dana, hingga Fanildo, martabat bangsa bersifat induktif; ia dibangun dari integritas konten serta resiliensi pengguna media sosial. Ketahanan di beranda depan negara kini menghadapi tantangan nyata berupa Cognitive Warfare melalui infiltrasi distorsi informasi. Dalam konteks ini, paradigma Jurnalisme Profetik hadir sebagai ikhtiar pikiran yang menyelaraskan kemajuan teknologi dengan keluhuran budi, sejalan dengan pilar Asta Cita dalam memperkuat pembangunan manusia, sains, dan teknologi.
Melalui pilar Siddiq (kebenaran), Amanah (integritas), Tabligh (transparansi), dan Fathanah (kebijaksanaan intelektual), aktivitas di ruang digital bertransformasi menjadi instrumen penguatan persatuan. Secara filosofis, nilai-nilai ini bersinergi sahih dengan prinsip Maqashid Syariah, khususnya dalam menjaga akal (Hifz al-’Aql) serta menjaga tanah air (Hifz al-Wathan) melalui perilaku digital yang bertanggung jawab. Hal ini merupakan bentuk nyata perlindungan terhadap kedaulatan kognitif rakyat Indonesia.
Prinsip Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) gagasan Kementerian Agama RI hadir sebagai ruh dalam setiap interaksi digital. Nilai Cinta kepada Tuhan, Diri dan Sesama, Ilmu Pengetahuan, Lingkungan, serta Bangsa dan Negeri merupakan landasan mental yang harus terinternalisasi. Saat interaksi digital dijiwai oleh semangat ini, maka ruang publik akan menghasilkan energi positif yang memperkokoh persatuan nasional secara konkret, sesuai dengan cita-cita luhur kemandirian bangsa yang tertuang dalam visi Asta Cita.
Guna mewujudkan ketahanan nasional yang tangguh, diperlukan sinergi melalui tiga pilar strategis: peneguhan otoritas naratif, penguatan literasi digital berlandaskan etika, dan pengawasan regulasi yang menjunjung tinggi kedaulatan data. Momentum ini memerlukan keluhuran nurani dan nilai Pancasila. Setiap ucapan dan baris kalimat yang diunggah adalah benih bagi persepsi kolektif bangsa. Maka, pastikan kunci konsisten dan konsekuensi dari setiap ketukan jemari serta ucapan kita adalah bias positif yang secara konsisten merawat martabat serta khususnya terus memperkokoh kedaulatan dan persatuan Indonesia.
Pada akhirnya, kedaulatan digital yang tegak merupakan hasil nyata dari implementasi Jurnalisme Profetik yang berlandaskan Panca Cinta sebagai jalan moderasi. Melalui komunikasi yang mencerahkan hati dan akal, Indonesia akan terus berdiri tegak sebagai mercusuar peradaban digital yang berdaulat, bermoral, dan berkeadilan, selaras dengan Pancasila, Asta Cita, serta Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya advokasi dalam ruang digital yang memerlukan masukan berkelanjutan. Penulis, Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom, saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumatera Utara.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 Komentar