بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Oleh : Tuan M.Yoserizal Saragih, M.I.Kom - Wakil Dekan III FIS UIN Sumut
Silaturahmi Ketua Umum Kohati Komisariat FIS Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara dengan Wakil Dekan III FIS UIN Sumut, Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom, menjadi peristiwa akademik spiritual yang sarat makna dalam membangun fondasi kepemimpinan perempuan intelektual di lingkungan PTKIN. Bertempat di Ruang Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara, pada Selasa, 20 Januari 2026 ( 1 Sya'ban 1447 H ), pertemuan ini berlangsung khidmat, penuh adab, dan bernuansa pembinaan karakter.
Kegiatan tersebut didampingi Sekretaris Umum HMI Komisariat FIS, Faisal Amir Saragih Munthe, serta para pengurus. Silaturahmi ini tidak berhenti pada etika kelembagaan, melainkan berkembang sebagai ruang tafakkur tentang peran strategis kader muslimah, penguatan spirit mahasiswa, serta tanggung jawab intelektual dalam sejarah, peradaban, dan masa depan bangsa.
Meneladani Ummul Mu’minin bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan ikhtiar membangun paradigma kepemimpinan perempuan yang berakar pada ilmu, akhlak, dan keberanian moral. Dari rumah kenabian lahir tradisi keilmuan, kebijaksanaan publik, dan etika sosial yang menjadi fondasi peradaban Islam. Disinilah KOHATI HMI komisariat FIS UIN Sumatera Utara Ketua Umum Fitri Holila Siregar masa khidmat 2025-2026 sebagai mahasiswa memosisikan diri sebagai penjaga kesinambungan nilai, penggerak kecendekiaan, dan penopang kematangan moral generasi bangsa dengan spirit mahasiswa yang tercerahkan.
Dalam diskursus silaturahmi tersebut, ditegaskan pentingnya uraian Panca Cinta dalam bingkai Kurikulum Berbasis Cinta sebagai amanah besar dalam perilaku berbangsa dan berbudaya, sebagaimana dirumuskan Menteri Agama RI, Almukarrom Bapak Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Pendidikan cinta bukan sekadar metode pedagogik, melainkan orientasi peradaban mencintai ilmu, mencintai manusia, mencintai alam, mencintai bangsa, dan mencintai Tuhan sebagai satu kesatuan etika publik.
Perhatian terhadap kajian ekoteologi ditegaskan sebagai moralitas bersama. Di tengah krisis lingkungan global, mahasiswa PTKIN dipanggil menjadi subjek etika ekologis menghubungkan iman dengan tanggung jawab kosmik serta menjadikan ilmu sebagai instrumen penjaga keberlanjutan. Inilah wajah baru moralitas publik spiritual, ilmiah, dan berkeadaban yang tumbuh dari spirit mahasiswa yang sadar peran sejarahnya.
Dalam perspektif kenegaraan, visi Asta Cita dipahami sebagai azzam kolektif untuk meneguhkan titik nadir moralitas bangsa. Amanah Presiden RI, Almukarrom Bapak H. Prabowo Subianto, menjadi panggilan sejarah bagi seluruh anak bangsa dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Di sinilah mahasiswa PTKIN ditegaskan sebagai peradaban untuk dunia wal akhirat pewaris nilai, penuntun ilmu, dan pelayan kemaslahatan.
Silaturahmi ini juga meneguhkan spirit PTKIN satu napas satu visi satu orientasi peradaban. Mahasiswa PTKIN bangkit membangun persaudaraan dalam bingkai Pancasila menautkan ukhuwah kebangsaan, profesionalisme, dan spirit mahasiswa sebagai energi moral peradaban Indonesia yang beradab, moderat, dan bermartabat.
Dengan demikian, pertemuan ini bukan sekadar peristiwa institusional, melainkan pernyataan sikap intelektual dan spiritual bahwa seluruh mahasiswa PTKIN dipanggil untuk hadir sebagai penyangga moral bangsa, pengawal ilmu, dan penggerak peradaban menuju Indonesia Emas 2045.
Menjadi Ummati Yang Dibanggakan Rhosulullah SAW.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 Komentar