بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Medan, 6 Mei 2026 Di tengah menguatnya arus kebijakan pendidikan yang menuntut efisiensi dan orientasi praktis, eksistensi ilmu sejarah kembali diuji. Menjawab tantangan tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara menggelar Forum Diskusi Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (FORDIMSPI) di Aula FIS Kampus IV UIN Sumut jl. tuntungan - durian jangak kec pancur batu kab deli serdang - sumut.
Kegiatan bertema “Jurusan Sejarah di Ujung Tanduk? Menguji Relevansi di Era Kebijakan Pendidikan Baru” ini menghadirkan Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara, Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., serta narasumber utama Ibu Nabila Yasmin, M.Phil.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumut diwakilkan Wakil Dekan III FIS UIN Sumatera Utara, Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom., menegaskan bahwa studi sejarah tetap memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kritis dan arah peradaban bangsa.
“Sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi fondasi strategis dalam membangun peradaban Nusantara. Relevansinya semakin kuat ketika dikaitkan dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Ditekankan bahwa pengembangan keilmuan di lingkungan FIS UIN Sumatera Utara harus selaras dengan visi tersebut, melalui penguatan kurikulum berbasis cinta yang menekankan pentingnya menyemai nilai rahmah dalam proses pendidikan sebagai bagian dari ikhtiar meraih ridho Allah SWT.
Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Bapak Dr. Hotmatua Paralihan Harahap, MA, menyatakan bahwa tantangan terhadap disiplin sejarah tidak dapat dihindari, namun harus dijawab dengan pembaruan pendekatan keilmuan yang adaptif dan kontekstual. Sejarah diposisikan sebagai instrumen analitis dalam membaca dinamika sosial kontemporer.
Ketua HMJ Sejarah Peradaban Islam, Safwan Shauri Nasution, menegaskan bahwa FORDIMSPI merupakan ruang intelektual mahasiswa dalam membangun kesadaran peradaban yang berlandaskan akhlaqul karimah serta komitmen mengawal nilai-nilai Pancasila.
Narasumber FORDIMSPI, Ibu Nabila Yasmin, M.Phil., menyoroti pentingnya transformasi studi sejarah melalui pendekatan interdisipliner, pemanfaatan teknologi digital, dan penguatan metodologi riset agar tetap relevan di era modern.
Al-Qur'an – Surah Ghafir: 21
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِن قَبْلِهِمْ
“Tidakkah mereka berjalan di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”
Mahasiswa sejarah tidak hanya dituntut memahami masa lalu, tetapi juga mampu mengartikulasikan nilai-nilai historis dalam konteks kekinian sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Forum ini menegaskan bahwa di tengah perubahan zaman, studi sejarah tetap menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban Nusantara yang berakar pada nilai, ilmu, dan identitas menuju Indonesia Emas 2045.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم




0 Komentar