بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØْÙ…َÙ†ِ الرَّØِيمِ
Medan — Ada sosok yang kehadirannya tidak cukup dikenang melalui jabatan, gelar, atau deretan karya. Ada pula sosok yang jejaknya terasa melalui ilmu yang diwariskan, keteladanan yang ditunjukkan, serta manusia-manusia yang tumbuh dan belajar dari perjalanan hidupnya. Dalam ruang itulah Almukarram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. hadir sebagai ulama dan intelektual yang perjalanan keilmuannya mempertemukan kedalaman tradisi Islam dengan keluasan kehidupan Nusantara.
“Murobbi Nusantara untuk Semesta” menjadi ungkapan yang merangkum penghormatan sekaligus cara membaca perjalanan tersebut. Murobbi tidak hanya menunjuk kepada seseorang yang mengajarkan ilmu, tetapi kepada sosok yang membimbing manusia melalui ilmu, adab, hikmah, dan keteladanan. Karena itu, seorang murobbi meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar pengetahuan: ia menumbuhkan cara berpikir, membentuk sikap, dan menyalakan semangat pengabdian.
Jejak Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dapat dilihat dari perjalanan panjangnya dalam dunia keilmuan, pendidikan, dakwah, kepemimpinan, dan pengabdian. Berbagai bidang tersebut tidak berdiri sendiri. Semuanya bertemu dalam satu orientasi: menjadikan ilmu memiliki manfaat nyata bagi kehidupan.
Di sanalah ilmu menemukan maknanya. Ilmu tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tumbuh menjadi hikmah. Hikmah tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi hadir dalam keteladanan. Dan keteladanan menemukan bentuk paling nyata ketika diwujudkan dalam pengabdian.
Nusantara sebagai Akar
Nusantara merupakan ruang yang kaya dengan keragaman tradisi, budaya, pemikiran, dan pengalaman keberagamaan. Dalam ruang yang demikian luas dan beragam, kehadiran ulama tidak hanya dibutuhkan untuk menyampaikan ajaran, tetapi juga untuk menghadirkan agama dengan bahasa yang menenteramkan, mencerdaskan, dan membangun kehidupan bersama.
Di sinilah makna “Nusantara” menjadi penting.
Nusantara adalah akar tempat pengalaman keilmuan dan pengabdian tumbuh, berinteraksi dengan masyarakat, dan menemukan bentuknya dalam kehidupan nyata. Namun akar bukanlah batas. Dari akar itulah pandangan dapat tumbuh lebih jauh.
Dari Nusantara untuk Semesta
Frasa “untuk Semesta” menunjuk pada keluasan orientasi pengabdian. Ia bukan klaim tentang pengakuan universal, melainkan cita-cita agar ilmu dan nilai yang dikembangkan dapat memberi manfaat melampaui batas ruang dan kelompok.
Kemanusiaan membutuhkan ilmu yang mampu membangun jembatan, bukan sekadar mempertebal jarak. Membutuhkan agama yang menghadirkan kedamaian tanpa kehilangan prinsip. Membutuhkan pemimpin yang mampu memadualkan keteguhan nilai dengan keluasan pandangan.
Dalam konteks itulah pengalaman keislaman Nusantara memiliki ruang penting untuk berbicara kepada dunia. Bukan dengan meninggalkan identitas, tetapi justru dengan menghadirkan nilai-nilai yang tumbuh dari tradisi sendiri dalam percakapan kemanusiaan yang lebih luas.
Murobbi dan Warisan Generasi
Seorang murobbi pada akhirnya tidak hanya meninggalkan karya, tetapi juga meninggalkan manusia:
Murid yang pernah belajar.
Generasi yang pernah dibimbing.
Gagasan yang terus dikembangkan.
Nilai yang diteruskan.
Tradisi keilmuan yang tetap hidup.
Warisan seperti inilah yang membuat perjalanan seorang ulama tidak berhenti pada zamannya. Sebab peradaban tidak hanya dibangun melalui gagasan besar, tetapi melalui manusia yang dibentuk oleh ilmu dan adab, kemudian meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Ilmu, Keteladanan, dan Pengabdian
Membaca Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar sebagai Murobbi Nusantara untuk Semesta pada akhirnya berarti membaca sebuah perjalanan dalam kesinambungan:
Adab melandasi ilmu.
Ilmu melahirkan hikmah.
Hikmah membentuk keteladanan.
Keteladanan menggerakkan pengabdian.
Pengabdian berakar di Nusantara.
Kemaslahatan menjadi horizon bagi semesta.
Penghormatan kepada seorang ulama tetap harus berjalan bersama amanah ilmiah. Ta‘zim tidak berarti mengultuskan. Keteladanan tidak berarti meniadakan sikap kritis. Apresiasi tidak berarti meninggalkan tabayyun.
Justru penghormatan yang matang adalah penghormatan yang mampu menempatkan seorang tokoh secara proporsional: memuliakan ilmunya, menghargai pengabdiannya, mempelajari pemikirannya, mengambil keteladanannya, dan tetap menjaga kejujuran dalam membaca fakta.
Pada akhirnya, “Murobbi Nusantara untuk Semesta” bukan sekadar sebuah sebutan. Ia adalah cara untuk mengenang sebuah perjalanan: perjalanan ilmu yang berakar pada adab, tumbuh menjadi hikmah, hadir melalui pendidikan dan keteladanan, kemudian bergerak menjadi pengabdian.
Dari Nusantara, ilmu menemukan akar.
Dalam keteladanan, ilmu menemukan kehidupan.
Dalam pengabdian, ilmu menemukan makna.
Dan untuk semesta, manfaatnya menemukan horizon.
صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙ‰ Ù…ُØَÙ…َّد صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…
0 Komentar