بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Oleh : Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom - Wakil Dekan III FIS UIN Sumut
( Refleksi Tahun Baru 2026 )
Dalam arsitektur matematika semesta, angka nol merupakan titik ekuilibrium; sebuah koordinat asal yang mendahului setiap eksistensi nilai dan menjadi napas hening sebelum angka satu dimulai. Namun, jika kita menengok catatan sejarah, tampak sebuah fenomena intelektual yang unik di mana peradaban manusia secara kolektif membangun tatanan waktu dengan memulai hitungan langsung dari angka satu. Eksplorasi ini hadir bukan untuk menggugat kenyamanan tradisi, melainkan menilik kembali retakan kecil dalam kronologi yang selama berabad-abad telah menjadi fondasi persepsi waktu kita secara nasional maupun global.
Diskoneksi dalam sistem waktu kita sebenarnya berakar pada cara kita memandang angka, di mana kita sering kali terjebak pada penggunaan bilangan ordinal yang menunjukkan urutan, namun melupakan bilangan kardinal yang merepresentasikan durasi. Secara administratif, menetapkan angka satu sebagai hari pertama adalah pilihan praktis yang memudahkan pencatatan sosial dan birokrasi. Akan tetapi, secara teoretis dan fundamental, sesuatu baru benar-benar mencapai nilai "satu" setelah ia menyelesaikan durasi penuh dari titik "nol". Tanpa adanya koordinat asal ini, tatanan waktu kita seolah melompat dari ketiadaan menuju keberadaan tanpa melewati pintu masuk yang presisi.
Di balik tradisi kalender sipil yang kita gunakan sehari-hari, dunia sains secara objektif tetap merawat titik nol sebagai bentuk harmonisasi demi menjaga akurasi semesta. Dalam perhitungan astronomi profesional atau Ephemeris, para ilmuwan menggunakan istilah Tanggal 0 Januari untuk merujuk pada momen transisi absolut dari akhir tahun sebelumnya.
Langkah ini menjamin agar variabel waktu tetap kontinu dalam kalkulasi matematika yang rumit. Hal ini memicu sebuah pertanyaan intelektual yang mendalam: mengapa kita tidak mengenal Tanggal 0 Februari, 0 Maret, hingga 0 Desember dalam tatanan waktu publik kita?
Saat waktu berpindah dari akhir Januari menuju 1 Februari, terjadi sebuah lonjakan numerik instan yang mengaburkan hubungan organik antara akhir durasi bulan lama dan awal eksistensi bulan baru. Kita seolah memproses waktu untuk lahir kembali tanpa titik nol, menciptakan diskontinuitas dalam aliran kronologi yang seharusnya linier. Padahal, teknologi modern yang menjadi pilar peradaban digital saat ini, seperti sistem navigasi GPS, justru bekerja di atas logika nol demi mencapai akurasi absolut. Validasi atas pentingnya titik asal ini pun telah diperkuat secara legal dan teknis oleh standar internasional ISO 8601 yang secara resmi menerapkan konsep "Tahun 0" guna memastikan pertukaran data waktu memiliki kesinambungan logis yang utuh bagi seluruh sistem komputasi modern.
Mempertanyakan ketiadaan Tanggal 0 di setiap awal bulan adalah sebuah undangan terbuka untuk meninjau kembali bagaimana tradisi dan akurasi bisa berjalan beriringan dalam kesadaran nasional yang cerdas. Manifesto ini mengajak kita pada pemahaman intelektual yang lebih dalam bahwa fondasi waktu kita adalah hasil konvensi sejarah yang dinamis. Kita berada di ambang cara pandang baru untuk mengakui eksistensi titik nol, sebuah upaya luhur untuk menyelaraskan keindahan tradisi dengan ketajaman presisi semesta demi memahami arti keberadaan secara lebih utuh, menyegarkan akal budi, dan memuliakan logika peradaban di masa depan.
CATATAN :
Eksplorasi ini merupakan sumbangsih pemikiran yang berpijak pada data astronomi global dan prinsip matematika murni. Narasi ini hadir untuk memperkaya khazanah literasi sains tanpa sedikit pun bermaksud menginterupsi makna spiritual maupun konsensus sosial dalam kalender Masehi. Ini adalah sebuah upaya intelektual menyelaraskan keindahan tradisi dengan ketajaman presisi semesta.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 Komentar