Header Ads Widget


 

Menjaga Hati di Ruang Digital Journalism: Menjadi Penyejuk Sesama di Tengah Situasi Cuaca Alam yang Belum Stabil dan Masa Pascarekonstruksi Bencana di Sumatera



بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِÙŠْÙ…ِ

​Oleh : Tuan M.Yoserizal Saragih, M.I.Kom - Wakil Dekan III FIS UIN Sumut

(Refleksi HAB Kemenag RI ke 80)

​Dunia digital kita hari ini adalah cermin dari kebaikan batin yang kita bangun bersama di ruang publik. Saat ini, ketika saudara-saudara kita di Aceh, khususnya yang berada dalam Masa Tanggap Darurat di Kabupaten Bener Meriah, serta wilayah pascarekonstruksi Kabupaten Aceh Tamiang dan sekitarnya, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat yang sedang berjuang menata kembali kehidupan, kehadiran kita di berbagai platform media sosial menjadi sangat berarti. Konten yang kita unggah, baik melalui narasi di Facebook, diskusi di grup WhatsApp, cuitan di X, hingga visualisasi pesan di Instagram dan TikTok, haruslah menjadi sandaran nurani yang mampu menenangkan batin yang sedang dalam kekhawatiran.
Di tengah situasi Cuaca Alam yang Belum Stabil dan bencana yang masih berlangsung, kita dipanggil untuk mengamalkan Kurikulum Berbasis Cinta, sebuah visi luhur dari Almukaram Bapak Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Agama RI. Visi ini mengajarkan kita untuk menempatkan kasih sayang sebagai kurikulum utama dalam setiap gerak hati dan jemari saat berinteraksi di ruang siber. Kabar yang kita bagikan di layar gawai bukan sekadar barisan tulisan atau video singkat, melainkan wujud kepedulian untuk membangun kembali harapan serta ketenangan jiwa masyarakat. Setiap informasi positif yang kita sebarkan adalah sumbangsih nyata bagi stabilitas nasional dan menjadi energi bagi bangkitnya saudara-saudara kita di wilayah terdampak.
Dalam perspektif luhur, komunikasi digital yang kita lakukan seharusnya menjadi ladang amal yang merujuk pada tuntunan Al Qur'an tentang Komunikasi yang Berhikmah. Kita dipanggil untuk senantiasa menghadirkan Qaulan Sadida, yakni perkataan yang benar dan jujur agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di tengah masa sulit. Kita juga perlu mengedepankan Qaulan Ma’rufa, ucapan yang baik dan santun, serta Qaulan Layyina, tutur kata yang lemah lembut agar pesan kebaikan dapat diterima oleh hati tanpa menimbulkan perpecahan di ruang publik.

​Dengan landasan Qaulan Baligha yang membekas pada jiwa, Qaulan Karima yang memuliakan martabat sesama, serta Qaulan Maysura yang memberikan kemudahan, setiap kita yang memegang ponsel sebenarnya sedang mengemban amanah besar dalam dunia Digital Journalism. Dalam fase krisis cuaca alam dan rekonstruksi ini, Kurikulum Berbasis Cinta mengingatkan kita bahwa jurnalisme warga di seluruh kanal media sosial haruslah menjadi instrumen yang menyembuhkan luka batin masyarakat melalui informasi yang menyejukkan dan edukatif.
Untuk menjaga kesejukan tersebut, mari kita jadikan Karakter Nubuwwah sebagai kompas utama dalam setiap ketukan jemari kita:
​Siddiq: Kejujuran sejati dalam membagikan fakta, menghindari penyebaran hoaks di grup-grup komunikasi.

​Amanah: Integritas menjaga ketenangan publik dan privasi para penyintas bencana.
​Tabligh: Penyampaian pesan yang mencerahkan, edukatif, dan penuh optimisme di beranda digital.
​Fathonah: Kebijaksanaan dalam menyaring konten sebelum dibagikan serta konsisten melakukan Tabayyun.
Dalam masa menghadapi tantangan cuaca alam dan membangun kembali ini, sinergi antara rakyat dan pemimpin adalah kunci utama menuju kebangkitan yang seutuhnya. Kita dukung sepenuhnya langkah-langkah strategis dan kerja nyata dari Almukaram Bapak H. Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, beserta jajaran pemerintah yang terus bergerak berupaya memastikan percepatan penanganan darurat serta rekonstruksi fisik dan sosial di seluruh wilayah Sumatera. Kehadiran negara sebagai pengayom di bawah kepemimpinan beliau memberikan rasa nyaman dalam perjuangan menghalau duka, seraya terus berusaha untuk pulih, bergerak, dan memberikan dampak positif bagi keberlanjutan hidup masyarakat.
​Dengan dukungan yang menyatu dalam doa dan kerja bersama, kita membersamai langkah Presiden RI dan para pemimpin negeri dalam kasih sayang Allahu Rabbul 'Alamin untuk membawa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang mandiri, berwibawa, dan penuh kasih sayang. Sinergi antara kepemimpinan yang amanah dan jurnalis publik yang memiliki keluhuran pekerti adalah jalan utama menuju kedaulatan bangsa yang stabil dan sejahtera di bawah naungan Allahu Rabbul 'Alamin.

​Niscaya badai akan berlalu, mari bergandeng tangan untuk Indonesia berdaulat dalam Rahmat Allah SWT dalam bimbingan Umara' Peradaban dan Ulama' Peradaban. Mari kita hiasi media sosial kita dengan tinta hikmah dan kasih sayang, karena setiap kabar baik yang kita sebar adalah investasi bagi masa depan peradaban yang lebih tangguh. Semoga setiap aktivitas digital kita senantiasa membawa manfaat, merawat persatuan, dan menjadi saksi atas kecintaan kita pada kemanusiaan serta tanah air tercinta.

​Al Hujurat Ayat 12:

​ÙŠَٰٓØ£َÙŠُّÙ‡َا ٱلَّذِينَ Ø¡َامَÙ†ُوا۟ ٱجْتَÙ†ِبُوا۟ ÙƒَØ«ِيرًا Ù…ِّÙ†َ ٱلظَّÙ†ِّ Ø¥ِÙ†َّ بَعْضَ ٱلظَّÙ†ِّ Ø¥ِØ«ْÙ…ٌ ۖ ÙˆَÙ„َا تَجَسَّسُوا۟ ÙˆَÙ„َا ÙŠَغْتَب بَّعْضُÙƒُÙ… بَعْضًا ۚ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain..."

صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙ‰ Ù…ُØ­َÙ…َّد صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…

Posting Komentar

0 Komentar