Header Ads Widget


 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H Komunikasi Profetik Nabi Ismail AS: Kesantunan Adab Anak terhadap Ayahanda Nabi Ibrahim AS




بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H
Komunikasi Profetik Nabi Ismail AS: Kesantunan Adab Anak terhadap Ayahanda Nabi Ibrahim AS

Oleh: Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom

Wakil Dekan III FIS UIN Sumut

Komunikasi Profetik dan Kesalehan Adab

Di antara kisah paling agung yang diabadikan dalam Al Qur’an, dialog antara Nabi Ismail AS dan ayahanda tercintanya Nabi Ibrahim AS merupakan manifestasi luhur komunikasi profetik yang dibangun di atas fondasi adab, ketundukan tauhid, dan kelembutan ruhani. Peristiwa ini bukan sekadar narasi historis tentang ujian penyembelihan, melainkan representasi agung tentang bagaimana komunikasi seorang anak kepada ayahandanya tetap dipenuhi penghormatan bahkan di tengah ujian paling berat dalam kehidupan manusia.
Dalam kajian komunikasi Islam, komunikasi profetik dipahami sebagai pola komunikasi yang bersumber dari nilai nilai kenabian, yakni kejujuran, kasih sayang, kesantunan, keteladanan moral, dan orientasi ketuhanan. Pada titik inilah Nabi Ismail AS menghadirkan teladan universal mengenai bagaimana adab menjadi inti dari komunikasi keluarga.
Kisah ini menjadi semakin relevan di tengah dinamika peradaban modern yang membutuhkan revitalisasi nilai nilai kesantunan, empati emosional, dan penghormatan antargenerasi dalam ruang keluarga maupun kehidupan sosial.
Kesantunan Adab Nabi Ismail AS dalam Komunikasi Ruhani
Ketika Nabi Ibrahim AS menyampaikan mimpi yang merupakan wahyu dari Allah SWT, Nabi Ismail AS menjawab dengan kelembutan yang sangat agung:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar.” (QS. Ash Shaffat: 102)
Dalam perspektif komunikasi profetik, frasa “يَا أَبَتِ” memiliki makna spiritual dan emosional yang sangat mendalam. Panggilan tersebut tidak hanya menunjukkan hubungan biologis antara anak dan ayah, tetapi juga memancarkan kasih sayang, penghormatan, kelembutan jiwa, dan kemuliaan akhlak.
Nabi Ismail AS tidak merespons dengan kepanikan ataupun penolakan yang melukai hati ayahandanya. Sebaliknya, beliau justru menghadirkan komunikasi yang menenangkan dan menguatkan hati Nabi Ibrahim AS yang sedang memikul amanah Ilahi yang sangat berat.
Di sinilah komunikasi profetik menemukan substansinya. Bahasa tidak digunakan untuk memperkeruh keadaan, melainkan menjadi jalan menghadirkan keteduhan, empati, dan penguatan ruhani.

Tauhid sebagai Fondasi Komunikasi Profetik

Kesantunan Nabi Ismail AS lahir dari kedalaman tauhid dan ketundukan kepada Allah SWT. Beliau memahami bahwa ujian tersebut berasal dari Allah SWT, sehingga orientasi komunikasi tidak berpusat pada ego pribadi, melainkan pada penghambaan kepada Tuhan.
Hal tersebut tampak dalam ungkapan:
افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
“Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa Nabi Ismail AS sedang menguatkan hati ayahandanya dalam menjalankan amanah Ilahi. Beliau tidak menjadikan dirinya sebagai pusat penderitaan, melainkan sebagai bagian dari ketundukan kepada Allah SWT.
Dalam kajian komunikasi profetik, sikap ini memperlihatkan bahwa komunikasi yang dilandasi tauhid akan melahirkan ketenangan, kejernihan emosi, dan kemuliaan adab. Ketika ego manusia tunduk kepada nilai nilai Ilahiah, maka komunikasi akan berubah menjadi ruang kasih sayang dan keberkahan.
Ketawadhuan Spiritual dan Kesalehan Emosional
Keagungan akhlak Nabi Ismail AS semakin tampak ketika beliau berkata:
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar.” (QS. Ash Shaffat: 102)
Ungkapan “إِنْ شَاءَ اللَّهُ” menunjukkan tingkat ketawadhuan spiritual yang sangat tinggi. Nabi Ismail AS tidak menyandarkan kekuatan kepada dirinya sendiri, melainkan kepada kehendak Allah SWT.
Dalam konteks komunikasi profetik, hal ini menunjukkan integrasi antara kesalehan emosional dan spiritualitas tauhid. Nabi Ismail AS menghadirkan komunikasi yang tidak meninggikan ego, tidak menampilkan superioritas diri, dan tidak memperbesar ketakutan personal. Yang dijaga oleh beliau justru ketenangan hati ayahandanya serta ketundukan kepada Allah SWT.
Di sinilah komunikasi profetik melahirkan kemuliaan ruhani yang sangat mendalam.
Relevansi Komunikasi Profetik bagi Kehidupan Kontemporer
Kisah Nabi Ismail AS memberikan refleksi penting bagi kehidupan modern. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan dipenuhi dinamika komunikasi digital, manusia membutuhkan penguatan kembali nilai nilai adab dalam hubungan keluarga.
Keteladanan Nabi Ismail AS menunjukkan bahwa kelembutan komunikasi bukanlah bentuk kelemahan, melainkan cerminan kematangan jiwa dan keluasan iman. Kesantunan dalam berbicara mampu menghadirkan keteduhan psikologis, memperkuat hubungan emosional, dan membangun harmoni sosial yang berkelanjutan.
Melalui kisah ini, setiap generasi diajak untuk meneladani bagaimana Nabi Ismail AS menjaga penghormatan kepada ayahandanya bahkan dalam kondisi yang sangat berat. Sebab komunikasi yang dibingkai adab akan melahirkan keberkahan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan hendaklah berbuat ihsan kepada kedua orang tua.” (QS. Al Isra: 23)
Ayat tersebut menegaskan bahwa relasi antara anak dan orang tua dalam Islam dibangun di atas fondasi ihsan, yaitu menghadirkan kebaikan, penghormatan, dan kasih sayang secara berkelanjutan.
Penutup: Adab sebagai Pilar Komunikasi Peradaban
Ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sama sama berserah diri kepada Allah SWT, Al Qur’an mengabadikan momentum agung tersebut:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
“Maka ketika keduanya telah berserah diri kepada Allah dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.” (QS. Ash Shaffat: 103)
Peristiwa ini menunjukkan bahwa komunikasi yang dibangun di atas ketauhidan, kesantunan, dan adab akan melahirkan kemuliaan peradaban. Nabi Ismail AS telah menghadirkan teladan universal tentang bagaimana seorang anak menjaga penghormatan kepada ayahandanya dengan kelembutan jiwa dan kesalehan ruhani.
Dalam perspektif komunikasi profetik, kisah ini menegaskan bahwa bahasa yang lahir dari hati yang bertauhid mampu menghadirkan keteduhan, kedamaian, dan keberkahan dalam kehidupan manusia.
Karena itu, Idul Adha bukan hanya momentum ritual pengorbanan, melainkan juga momentum membangun kembali budaya adab, komunikasi yang santun, serta penguatan kasih sayang dalam keluarga dan kehidupan sosial.
Semoga keteladanan Nabi Ismail AS menjadi cahaya moral bagi peradaban modern dalam membangun komunikasi yang penuh adab, kemuliaan, dan keberkahan.
Wallahu a‘lam bish shawab.

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Posting Komentar

0 Komentar